Orang Tua Siswa SMAN 1 Berastagi Menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Setelah Anaknya Keracunan
Salmen Sihite, seorang orang tua siswa SMAN 1 Berastagi, mengungkapkan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah anaknya, Krismas Dayanti Br Sihite, mengalami keracunan akibat makanan yang disajikan dalam program tersebut. Saat ini, anaknya masih dirawat di Rumah Sakit Haji Medan dan kondisinya mulai membaik.
Anak perempuan Salmen sempat tidak sadarkan diri hingga masuk ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) setelah mengonsumsi MBG dari sekolah. Kejadian ini membuat keluarganya trauma dan takut untuk kembali mengizinkan anaknya mengikuti program MBG.
Pantauan menunjukkan bahwa mata Salmen tak pernah lepas dari ruangan PICU di Rumah Sakit Umum Haji Medan yang tertutup rapat. Dari tempat rumah singgah yang diberikan pihak rumah sakit, ia terus memantau dan menunggu kabar baik dari buah hatinya.
Minta MBG Ditutup
Saat didekati oleh jurnalis, Salmen mengungkapkan rasa lega namun masih penuh dengan kecemasan. Ia menyatakan bahwa setelah melewati tiga hari sejak Jumat (15/8/2026), anaknya sempat mengalami penurunan kesadaran, keluhan nyeri perut, dan kepala yang cukup kuat, namun akhirnya beranjak pulih.
Krismas adalah anak keempat dari enam bersaudara dan telah lama ditinggal sang ibu untuk selama-lamanya. Sejak kejadian anaknya keracunan, Salmen bertekad tidak akan mengizinkan sang anak untuk makan MBG kembali. Bahkan ia meminta agar MBG tersebut ditutup.
“Harapan saya, kalau saya pribadi, kalau bisa. kalau MBG ditutuplah. Jangan lagi. Bagi saya, ya, karena takutnya nanti anak saya seperti itu lagi,” ujarnya.
Salmen yang bekerja sebagai supir ini mengaku juga sempat mengalami drop karena mendengar kondisi anaknya yang keracunan MBG. Ia berencana meminta anaknya membawa bekal sendiri dari rumah, meskipun hanya ikan asin atau ikan asin goreng.
“Sampai saat ini belum ada pemberitahuan ya. Hanya saja katanya, tunggu dulu dia penuh sehat dari sini, dari ruang PICU. Baru kalau sudah penuh sehat, baru dipindahkan lagi ke ruang rawat inap anak,” ucapnya.
Awal Mula Anaknya Keracunan
Diceritakan Salmen, awal mula ia mengetahui anaknya keracunan MBG dari anaknya sendiri. Sebelum kejadian, ia sudah mengabari bahwa sekolahnya mengalami keracunan MBG. Ia menyuruh adiknya melihat kakaknya ke sekolah.
Namun, karena panik dan merasa tidak tenang, dalam keadaan sakit ia pun pergi ke sekolah mencari sang anak. Setelah tidak menemukan anaknya di sekolah, ia pergi ke Rumah Sakit Amanda dan kemudian ke Rumah Sakit Efarina Karo.
Di situlah mereka menemukan anaknya masih bisa diajak bicara, tetapi mengeluh perut sakit, ulu hati panas, dan tenggorokan gatal. “Mulai itulah (setelah makan MBG), mulai dari sekolah sampai ke rumah sakit. Sebelumnya itu tidak ada apa-apa,” ujarnya.
Sempat Tak Sadarkan Diri dan Sulit Bicara
Ketika perjalanan menuju Medan, Krismas mengalami penurunan kesadaran dan sudah tidak bisa diajak berbicara. Ia mengatakan bahwa selama perjalanan dari Efarina ke Medan, kesadaran anaknya terus menurun selama tiga hari.
“Kami semua sudah menangis,” katanya. Ia juga belum sempat menanyakan hasil medis sang anak ke dokter karena fokusnya hanya pada kesembuhan buah hatinya.
Meski begitu, ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memperhatikan kondisi anaknya dengan baik. “Syukurnya sudah sadar, sudah bisa ngomong, makan dan duduk. Mulai membaik. Dan dari awal berobat anak saya gratis tidak dipungut biaya,” tutupnya.
Siswa Dirawat di RS Haji Bertambah 3 Orang
Jumlah siswa Karo yang keracunan MBG dan dirujuk ke RS Haji Medan bertambah menjadi tiga orang. Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Umum Haji Medan, Fitrady Ulianda Siregar, mengatakan dua siswa baru dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan, Selasa (18/7/2026) kemarin.
Untuk satu siswa lainnya, ia berada di Ruang Rawat Inap Anak. Dikatakannya, satu pasien yang sudah dirujuk sejak Jumat lalu, sudah berangsur pulih.
Adapun nama ketiga siswa itu yakni Krismas Dayanti (18) Siswa SMA 1 Medan, Febiona(16) siswa SMK Bersama dan Ana Karina Karo, siswa SMA Bersama. “Jadi saat ini kita sedang merawat tiga orang siswi SMA dan SMK Karo. yaitu dua orang dirawat di ruangan PICU dan satu orang dirawat di ruangan ruang rawatan anak biasa, ya,” ucapnya.
Trauma Akibat Keracunan
Dijelaskannya, bentuk trauma yang terjadi itu seperti siswa mengingat kejadian dan waktu mereka memakan MBG tersebut. “Bentuk traumanya, ya itu tadi, kan dia teringat kejadian yang waktu makan itu, gitu. Kejadian waktu makan. Iya (jadi dia agak-agak was-was) tapi kita kan selalu apa namanya, memberi keyakinan ini makanan kan dari rumah sakit, juga kan.”
Mudah-mudahan insyaallah ini higienitasnya bagus, terjamin, karena kan butuh gizi dia kan, gitu kan, supaya mempercepat penyembuhannya,” ucapnya.
