Peringatan Iran Terkait Selat Hormuz
Iran kembali memperkuat pernyataan militer terkait pengelolaan Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi pasokan minyak dan gas bumi global. Pernyataan ini disampaikan oleh Komando Tertinggi Khatam al-Anbiya, yang menyatakan bahwa mereka menguasai penuh jalur air strategis tersebut. Dalam pernyataannya, Iran menegaskan bahwa setiap kapal militer asing yang ikut campur dalam pengelolaan selat akan dianggap sebagai target tembak.
Selat Hormuz, yang berada antara Iran dan Oman, merupakan salah satu titik sumbat maritim (chokepoint) paling krusial di dunia. Jalur ini menjadi jalan utama bagi sebagian besar pasokan minyak mentah dunia serta pengiriman gas alam cair (LNG) ke berbagai belahan benua. Dengan posisi strategisnya, keamanan dan stabilitas selat ini sangat penting bagi ekonomi global.
Aturan Navigasi yang Ketat
Melalui maklumat terbaru, Iran menerapkan aturan navigasi yang sangat ketat bagi kapal komersial dan tanker minyak internasional. Semua kapal wajib menggunakan rute spesifik yang ditentukan oleh Teheran dan memperoleh surat otorisasi resmi dari Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Pihak militer Iran memperingatkan bahwa pelanggaran terhadap regulasi ini akan membawa risiko serius bagi keamanan kapal tersebut.
Ancaman yang lebih tajam diberikan kepada konvoi angkatan laut negara-negara barat dan sekutunya. Iran secara tegas melarang adanya aktivitas intervensi militer asing di koridor pengawasan mereka. Langkah ini diprediksi akan memicu respons balasan dari Amerika Serikat dan sekutunya, yang selama ini mengampanyekan kebebasan navigasi internasional di perairan Teluk.
Tanggapan AS terhadap Klaim Iran
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menolak pernyataan Iran bahwa mereka mengendalikan Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa AS tetap mengendalikan jalur air strategis tersebut. Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada bulan Februari 2026, ketegangan regional meningkat. Iran merespons dengan serangan terhadap Israel dan sekutu AS di Teluk, serta penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan dan diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu. Setelah negosiasi terhenti yang dimediasi oleh Islamabad, AS memberlakukan blokade di pelabuhan Iran sejak 13 April, termasuk yang terletak di sepanjang Selat Hormuz.
Aksi Militer AS Terhadap Kapal Dagang
Militer AS menghentikan sebuah kapal dagang yang mencoba menerobos blokade pelabuhan Iran dengan menembakkan rudal ke ruang mesinnya. Hal ini disampaikan oleh Komando Pusat AS pada hari Sabtu. Kapal kargo berbendera Gambia, Lian Star, mengabaikan lebih dari 20 peringatan dari pasukan AS semalam saat mencoba memasuki pelabuhan Iran. Dengan aksi terbaru ini, militer AS telah menghentikan enam kapal yang mencoba menerobos blokade.
Blokade AS bertujuan untuk membatasi pengiriman barang Iran sendiri dan melemahkan aksesnya terhadap uang tunai, sehingga menambah penderitaan bagi perekonomiannya yang sudah melemah sejak lama. Presiden AS Donald Trump bertemu dengan para penasihatnya pada hari Jumat tetapi belum memutuskan apakah akan melanjutkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali selat tersebut.
Ancaman dan Konsekuensi
Iran bahkan mengenakan biaya transit hingga 2 juta dolar AS, yang oleh para ahli disebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip perdagangan maritim internasional: kebebasan navigasi yang damai. Dalam pernyataannya, komando militer gabungan Iran memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap peraturan ini akan membahayakan keamanan jalur pelayaran mereka secara serius.
Peristiwa di Selat Hormuz, jalur air utama antara Iran dan Oman, telah mengguncang perekonomian global. Pengiriman sejumlah besar minyak, gas alam, dan pasokan terkait seperti pupuk sebagian besar terhenti, meningkatkan tekanan pada konsumen dan produsen pangan.





