Kelangkaan Pertalite di Jawa Timur Mengganggu Kebutuhan Masyarakat
Beberapa hari terakhir, masyarakat di Jawa Timur mengeluhkan kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite. Laporan ini menyebar dari berbagai wilayah seperti Surabaya, Jombang, Sampang, dan Ponorogo. Kondisi tersebut memicu antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan keresahan di kalangan pengguna kendaraan.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa masalah yang terjadi bukan disebabkan oleh habisnya stok Pertalite secara keseluruhan. Menurut informasi yang diberikan, permasalahan utama terletak pada distribusi BBM yang sedang dalam proses penyesuaian. Dengan demikian, masyarakat diminta untuk tidak langsung menyimpulkan adanya kekurangan stok nasional atau regional.
Penjelasan dari Pemprov Jatim
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur, Aftabuddin Rijaluzzaman, menjelaskan bahwa kelangkaan yang terjadi bukan karena ketersediaan Pertalite habis. Ia menekankan bahwa saat ini sedang dilakukan pengaturan distribusi agar penyaluran BBM dapat berjalan lebih baik.
“Sebenarnya bukan kosong, tetapi distribusinya yang sedang diatur. Kita tunggu saja, memang sementara ini sedang dilakukan pengaturan distribusi yang baik,” ujar Aftabuddin saat dikonfirmasi.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan terjadi kekurangan stok secara nasional maupun regional karena persoalan yang dihadapi saat ini berkaitan dengan distribusi.
Pemprov Tunggu Penjelasan Resmi Pemerintah Pusat
Aftabuddin menjelaskan bahwa urusan bahan bakar minyak (BBM) merupakan kewenangan pemerintah pusat. Oleh karena itu, pemerintah daerah tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci sebelum ada keterangan resmi dari kementerian terkait.
Karena itu, Pemprov Jawa Timur memilih menunggu informasi resmi yang akan disampaikan pemerintah pusat dalam waktu dekat. “Kami diminta untuk menunggu dulu. Nanti kementerian akan mengeluarkan statement terlebih dahulu, maksimal tanggal 1 Juli. Setelah ada kepastian dari pusat, baru kami menyampaikan secara masif kepada masyarakat,” jelasnya.
Langkah tersebut diperlukan agar informasi yang diterima masyarakat tetap akurat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
ESDM Jatim Sudah Lakukan Koordinasi
Meskipun belum memberikan keterangan lebih rinci, Dinas ESDM Jawa Timur mengaku telah melakukan koordinasi terkait kondisi distribusi BBM yang terjadi saat ini. Hasil koordinasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan sambil menunggu keputusan dan penjelasan resmi dari pemerintah pusat.
“Kemarin kami sudah koordinasi. Kita tunggu saja sampai paling lambat 1 Juli nanti akan ada statement dari pemerintah pusat. Baru kita lihat bagaimana perkembangan ke depannya,” jelasnya.
Pemerintah daerah juga terus berkomunikasi dengan pihak terkait guna memastikan distribusi BBM dapat kembali berjalan normal.
Kewenangan BBM Ada di Pemerintah Pusat
Aftabuddin kembali menegaskan bahwa kebijakan mengenai pengelolaan dan distribusi BBM berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Karena itu, pemerintah provinsi tidak memiliki ruang untuk menyampaikan penjelasan lebih jauh terkait penyebab teknis yang memicu gangguan distribusi Pertalite di sejumlah daerah.
“Saya belum bisa memberikan statement lebih jauh karena memang itu bukan kewenangan provinsi, melainkan kewenangan pemerintah pusat,” pungkasnya.
Sementara menunggu penjelasan resmi dari pemerintah pusat, masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi dari sumber-sumber resmi terkait perkembangan distribusi BBM di Jawa Timur.
Situasi di Jombang
Sejumlah SPBU di Kabupaten Jombang dilaporkan mengalami kelangkaan dan kekosongan stok bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite. Imbas dari kosongnya pasokan komoditas vital tersebut, antrean panjang kendaraan roda dua maupun roda empat meluber di beberapa titik SPBU yang masih membuka pelayanan.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, kelangkaan stok Pertalite ini merata terjadi di sejumlah kawasan strategis. Beberapa di antaranya meliputi SPBU Mojongapit, SPBU Jalan Basuki Rahmad di Desa Tunggorono, serta SPBU Jalan Haji Abdoeh Moertadji yang terletak di Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.
Sebaliknya, pemandangan kontras terlihat di SPBU kawasan Jelakombo. Lantaran menjadi salah satu dari sedikit tempat yang masih menyediakan Pertalite, SPBU tersebut langsung diserbu warga. Antrean kendaraan tampak memanjang drastis hingga menyentuh bibir badan jalan utama dan memicu perhatian para pengguna jalan yang melintas.
Warga Terpaksa Beralih ke Pertamax Akibat Eceran Juga Kosong
Kelangkaan ini pun langsung dikeluhkan oleh para pekerja yang hendak bermobilitas di pagi hari. Salah seorang pengendara motor, Rama, mengaku sangat kesulitan mencari bensin jenis Pertalite untuk keperluan berangkat bekerja. Setelah berputar-putar ke beberapa tempat tanpa hasil, ia terpaksa beralih membeli Pertamax.
“Saya sudah mencoba mencari ke beberapa SPBU dari pagi, tetapi semua stok Pertalite kosong. Karena diburu waktu dan harus segera sampai di tempat kerja, akhirnya terpaksa membeli Pertamax yang harganya lebih tinggi,” keluh Rama.
Rama menambahkan, keputusannya membeli BBM non-subsidi tersebut diambil setelah dirinya juga mencoba mencari ke lapak-lapak penjual bensin eceran di pinggir jalan. Namun, mayoritas pedagang eceran juga melempar jawaban serupa bahwa stok bensin mereka sedang habis total.
“Tadi juga sempat mampir ke beberapa penjual bensin eceran di jalur alternatif, mereka semua juga bilang bensinnya habis,” cetusnya lesu.
Pertalite Langka di Kediri
Kelangkaan Pertalite mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Kediri dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memicu antrean panjang di SPBU yang masih memiliki stok BBM bersubsidi, sementara beberapa SPBU lainnya terpaksa memasang pemberitahuan bahwa Pertalite telah habis.
Situasi ini membuat banyak pengguna kendaraan harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya untuk mendapatkan bahan bakar. Tak sedikit pengendara yang kecewa setelah mendapati stok Pertalite kosong dan harus mencari lokasi pengisian lain yang masih melayani pembelian BBM subsidi tersebut.
Pantauan di lapangan pada Selasa (23/6/2026), salah satu SPBU yang kehabisan stok Pertalite berada di kawasan Bringin, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejumlah pengendara yang datang terpaksa memutar balik setelah melihat informasi bahwa Pertalite tidak tersedia.
Di sisi lain, SPBU yang masih memiliki stok mengalami lonjakan jumlah konsumen. Salah satunya terjadi di SPBU Pelem, Kecamatan Pare, yang sejak pagi dipadati antrean kendaraan hingga meluber ke badan jalan.
“Di POM Bringin habis, saya ke sini. Antre lama tidak apa-apa. Takutnya siang Pertalite habis seperti kemarin,” kata Bahrudin, salah satu pengantre Pertalite.
Antrean Mengular Sejak Pagi
Sejak pagi hari, pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat telah memadati jalur pengisian Pertalite. Kekhawatiran akan kehabisan stok membuat masyarakat memilih datang lebih awal meski harus menunggu cukup lama.
Berdasarkan pantauan di lokasi, antrean kendaraan didominasi sepeda motor. Barisan kendaraan tampak terus mengular dan bergerak perlahan menuju dispenser pengisian bahan bakar.
Pengalaman serupa dirasakan sejumlah pengendara yang harus meluangkan waktu cukup lama hanya untuk mendapatkan beberapa liter Pertalite.
Pantauan Infomalangraya.net menunjukkan bahwa waktu tunggu rata-rata mencapai 45 menit. Bahkan, pengendara yang masuk antrean sekitar pukul 07.15 WIB baru mendapatkan layanan pengisian sekitar pukul 08.00 WIB.
Dalam kondisi antrean yang lebih lengang, waktu tunggu tercepat masih berkisar 30 menit. Sebagian pengendara tampak duduk santai di atas sepeda motor, memainkan telepon genggam, hingga mengobrol dengan sesama pengguna kendaraan sambil menunggu giliran.
Mereka tetap memilih mengantre karena Pertalite masih menjadi pilihan utama masyarakat dengan harga sekitar Rp10.000 per liter yang dinilai lebih terjangkau dibanding BBM non-subsidi.





