Kebijakan Harga BBM Nonsubsidi dan Stabilitas Energi Nasional
Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan pembahasan akhir terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax series. Meski belum ada keputusan resmi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa proses pembahasan tersebut hampir selesai.
“Kami sudah melalui beberapa rapat dengan Pertamina maupun badan usaha swasta, dan saya merasa sudah hampir selesai,” ujar Bahlil dalam pernyataannya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Ia menambahkan bahwa penyesuaian harga akan dilakukan setelah proses pembahasan selesai.
Saat ini, harga BBM nonsubsidi masih mengacu pada penyesuaian terakhir yang dilakukan pada 1 Maret 2026. Per 1 April 2026, harga BBM nonsubsidi Pertamina dan SPBU swasta lainnya tidak mengalami kenaikan meskipun harga minyak dunia sempat mencapai level 100 dollar AS per barrel.
Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah hanya berwenang menetapkan harga untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar. Sedangkan untuk BBM nonsubsidi, harga ditentukan berdasarkan harga pasar. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi diatur oleh Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 yang mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022.
Sebelumnya, badan usaha SPBU Pertamina, Shell, Vivo, dan BP memutuskan untuk menahan harga jual BBM nonsubsidi pada awal April 2026 hingga saat ini. Saat ini, harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih mengacu pada ketentuan Pertamina Patra Niaga per 1 Maret 2026.
Harga Pertamax adalah Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) Rp12.900, serta Pertamax Turbo dari Rp13.100 per liter. Untuk jenis solar non-subsidi, harga Dexlite naik menjadi Rp14.200 per liter dan Pertamina Dex Rp14.500 per liter.
Sedangkan harga BBM subsidi Pertalite tetap dijual dengan harga Rp 10.000 per liter dan solar Rp 6.800 per liter.
BBM Subsidi Tetap Stabil Hingga Akhir Tahun
Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah telah berhasil mengamankan pasokan minyak mentah (crude oil) dari Rusia. Pasokan ini diperuntukkan untuk menjaga stok energi nasional di tengah konflik di Timur Tengah.
Stok energi nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat mencukupi. Dengan demikian, Bahlil memberikan jaminan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.
“Saya sampaikan kepada publik bahwa InsyaAllah stok kita di atas standar minimum baik itu solar, baik itu bensin maupun LPG, InsyaAllah aman,” ujarnya setelah melaporkan hasil kunjungannya dari Rusia kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Bahlil menjelaskan bahwa kesepakatan dengan Rusia merupakan langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan minyak nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Dengan adanya pasokan baru ini, kekhawatiran akan kelangkaan stok dapat teratasi.
“Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember InsyaAllah sudah aman. Jadi kita nggak perlu risau tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita,” tuturnya.
Kerja Sama dengan Rusia untuk Ketahanan Energi Nasional
Langkah mengamankan pasokan ini berdampak langsung pada kebijakan harga di tingkat konsumen. Bahlil menjamin bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dengan tidak mengubah harga BBM subsidi.
“Dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun Insyaallah sampai selama-lamanya ya,” tegas Bahlil.
Terkait anggaran, ia menambahkan bahwa fluktuasi harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP) masih berada dalam batas aman APBN. Saat ini rata-rata harga ICP masih berada di bawah angka asumsi yang ditetapkan pemerintah.
“Tapi kalau sampai dengan 100 dolar itu sudah aman dalam APBN dan sekarang harga rata-rata ICP Januari sampai dengan sekarang itu tidak lebih dari 77 dolar. Jadi kita itu baru split 7 dolar jadi jangan sampai ada yang menganggap bahwa uang kita dapat dari mana? Kita ini baru naik 7 dolar sampai dengan sekarang yang saya ngomong ini,” jelasnya.
Investasi dan Infrastruktur Energi dari Rusia
Bahlil menegaskan bahwa negosiasi dengan pihak Rusia terkait pasokan minyak mentah kini telah memasuki tahap final. “Alhamdulillah kemarin atas arahan Bapak Presiden sudah saya bertemu dengan Menteri ESDM dan utusan khusus daripada Presiden Putin dan kabarnya Alhamdulillah cukup menggembirakan bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia,” ujar Bahlil.
Selain pasokan minyak mentah, Rusia juga menyatakan kesiapannya untuk berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur energi di Indonesia. Hal ini mencakup pembangunan kilang minyak serta fasilitas penyimpanan atau storage untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang.
Presiden Prabowo Subianto telah bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, Senin 13 April 2026. Dalam pertemuan tersebut, didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Sejumlah isu krusial menjadi fokus pembahasan, mulai dari potensi kerja sama pasokan minyak mentah, investasi di sektor energi, hingga pengembangan infrastruktur seperti kilang minyak. Keesokan harinya untuk memperdalam pembahasan teknis, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin sehari sebelumnya. Dalam forum tersebut, kedua pihak membahas peluang konkret kerja sama energi yang dapat segera ditindaklanjuti, terutama kepastian pasokan minyak mentah (crude) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Rusia menyatakan kesiapan untuk mendukung ketahanan energi Indonesia, salah satunya suplai minyak dan gas bumi (Migas) dan penyimpanan (storage). Pertemuan itu turut dihadiri perwakilan sejumlah perusahaan energi Rusia, antara lain Rosneft, Ruschem, Zahrubesneft, dan Lukoil.





