Penjelasan Istilah “Londo Ireng” oleh Presiden RI Prabowo Subianto
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, baru-baru ini menyebut istilah “Londo ireng” dalam pidatonya. Istilah tersebut mencakup kalangan jurnalis, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang kritis terhadap pemerintah. Emrus Sihombing, akademisi sekaligus pakar komunikasi politik, menilai bahwa istilah “Londo ireng” memiliki makna yang multitafsir.
Makna Istilah “Londo Ireng”
Secara harfiah, “Londo ireng” merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang berarti “orang Belanda berkulit hitam.” Namun, dalam konteks sejarah, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan warga pribumi yang membantu penjajah dan ikut menindas sesama warga negara sendiri. Dalam konteks modern, Prabowo menyebut bahwa “Londo ireng” saat ini tidak lagi merujuk pada orang-orang asing, tetapi pada individu-individu tertentu di dalam negeri.
Menurut Prabowo, kelompok ini dianggap sebagai pihak yang mengabdi pada kepentingan asing, bukan kepentingan nasional. Ia juga mempertanyakan sumber pendanaan dari LSM dan pengamat yang sering melontarkan kritik pesimistis terhadap pemerintah.
Multi Tafsir dan Konteks Makna
Emrus Sihombing menjelaskan bahwa istilah “Londo ireng” memiliki makna yang bisa ditafsirkan secara berbeda-beda. Bisa saja publik memahami bahwa “Londo ireng” merujuk pada orang Belanda berkulit hitam, meskipun dalam konteks sejarah, Belanda identik dengan penjajah yang kulitnya putih. Dengan demikian, istilah ini bisa diartikan sebagai penjajah dari warga negara sendiri, meskipun bukan orang atau warga Belanda.
Namun, Emrus juga menyatakan bahwa kemungkinan besar Prabowo tidak bermaksud mengacu pada makna historis tersebut. Ia menekankan bahwa makna istilah ini sangat multi tafsir, sehingga perlu dipahami dengan hati-hati.
Tidak Berarti Defensif terhadap Kritik
Meski menggunakan istilah “Londo ireng,” Emrus menegaskan bahwa Presiden Prabowo bukan sosok yang defensif terhadap kritik. Ia menunjukkan bahwa Prabowo menghargai semua kritik yang dilontarkan oleh berbagai kalangan, termasuk kader partai yang ada di luar kekuasaan.
Emrus juga menilai bahwa pernyataan Prabowo tidak akan menciptakan efek ketakutan bagi jurnalis dan LSM yang kritis. Menurut dia, para jurnalis dan aktivis LSM profesional akan terus menyampaikan pandangan dan kritikan mereka. Hal ini dibuktikan dengan kritik-kritik tajam yang muncul di ruang publik secara bebas.
Pengaruh Terhadap Kepercayaan Publik
Emrus meyakini bahwa pernyataan Prabowo tentang “Londo ireng” tidak akan memengaruhi kepercayaan publik terhadap media dan jurnalis secara keseluruhan. Di Indonesia, yang dikenal sebagai negara demokrasi, media mainstream yang independen dan kredibel masih mendapat kepercayaan tinggi dari masyarakat.
Ia menambahkan bahwa media massa arus utama lebih dipercaya masyarakat daripada sumber langsung dari pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan pers dan berpendapat di Indonesia tetap terjaga.
Pernyataan Prabowo dan Analogi Sejarah
Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi tidak anti terhadap kritik. Namun, ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang dinilainya sengaja mengabdi pada kepentingan asing demi melemahkan bangsa sendiri.
Prabowo menganalogikan kelompok ini dengan istilah sejarah “Londo Ireng” pada masa penjajahan Belanda. Ia menegaskan bahwa kelompok ini masih ada hingga saat ini, dalam bentuk wartawan, pengamat, hingga LSM.
Ia juga mempertanyakan siapa penyandang dana di balik pihak-pihak yang dinilainya kerap melontarkan narasi negatif terhadap pemerintah. Dengan kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tantangan penciptaan lapangan kerja, Prabowo menyoroti pentingnya memahami motivasi dari kritik-kritik tersebut.
Kritik dan Narasi Negatif
Prabowo menilai bahwa kelompok-kelompok tersebut secara masif menyebarkan kampanye untuk menggoyahkan mental bangsa. Salah satunya adalah dengan menyebarkan narasi berulang yang memprediksi bahwa Indonesia akan segera runtuh atau kolaps.
Ia menyebut contoh seperti prediksi bahwa Indonesia akan kolaps pada bulan April, Mei, Juni, dan Juli. Meski prediksi tersebut tidak terbukti, Prabowo menganggap hal ini sebagai upaya untuk menurunkan moral bangsa.
Ia lantas menganalogikan pihak-pihak yang terus menurunkan moral bangsa sendiri di tengah upaya perbaikan layaknya pendukung sepak bola yang tidak waras.





