Bali Menjadi Tujuan Ajang Olahraga Ekstrem Internasional
Bali kembali menegaskan posisinya sebagai destinasi wisata kelas dunia dengan menjadi tuan rumah ajang olahraga ekstrem internasional Red Bull Cliff Diving World Series 2026. Event ini akan digelar di Nusa Penida, Bali, yang dipilih sebagai lokasi utama babak final kompetisi bergengsi tersebut. Acara ini akan berlangsung di Broken Beach, Nusa Penida, Klungkung, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Keindahan tebing batu alami yang menghadap langsung ke Samudera Hindia menjadi latar spektakuler bagi para atlet yang akan melompat dari ketinggian ekstrem. Pemilihan Nusa Penida sebagai lokasi event dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkenalkan destinasi di luar kawasan utama Bali. Keberhasilan Bali menjadi tuan rumah ajang ini diharapkan membuka peluang hadirnya lebih banyak event internasional di masa depan.
24 Atlet Dunia Siap Tampil di Ketinggian Puluhan Meter
Sebanyak 24 atlet cliff diving profesional dari 14 negara dipastikan ambil bagian dalam ajang ini. Mereka akan menunjukkan kemampuan akrobatik dari ketinggian sekitar 27 meter untuk kategori putra dan 21 meter untuk kategori putri, sebelum terjun bebas ke laut lepas.
Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali, A.A. Made Anggia Widana, menyebutkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari perubahan paradigma pariwisata Bali. Ia menegaskan bahwa pemerintah juga mendorong penyebaran aktivitas wisata agar tidak hanya terpusat di Bali Selatan.
Tradisi Lokal Jadi Bagian dari Pengalaman Kompetisi
Para atlet internasional tidak hanya berkompetisi, tetapi juga diajak mengenal budaya Bali sejak kedatangan mereka pada 18 Mei 2026. Salah satu kegiatan menarik adalah penentuan urutan loncat menggunakan permainan tradisional memasukkan pensil ke dalam botol, yang biasa ditemukan dalam perayaan Agustusan di Indonesia.
Atlet senior seperti Gary Hunt (Prancis) dan Ginni van Katwijk (Belanda) menjadi peserta pertama yang mengikuti permainan tersebut. Selain itu, para atlet juga mengikuti berbagai aktivitas budaya seperti membatik, merangkai canang sari, dan mengunjungi pasar tradisional.
Red Bull Jadi Ajang Pembuka
Keberhasilan Bali menjadi tuan rumah ajang ini diharapkan membuka peluang hadirnya lebih banyak event internasional di masa depan. Pihak penyelenggara menilai Bali memiliki daya tarik lengkap, mulai dari alam tropis, laut, hingga tebing yang cocok untuk olahraga ekstrem.
Direktur Olahraga Red Bull Cliff Diving, Orlando Duque, menyebut Bali sebagai “lokasi impian” bagi para atlet. Juri loncat indah Olimpiade dari PB Akuatik Indonesia, Pranarta Arumbowo, menegaskan bahwa kondisi angin dan cuaca menjadi tantangan utama bagi para atlet.
Gamelan hingga Ritual Melukat Warnai Acara
Perhelatan di Broken Beach akan diperkaya dengan nuansa budaya Bali, seperti Gamelan baleganjur, musik rindik, tari barong, ritual melukat sebelum pertandingan. Selain itu, TNI Angkatan Laut turut dikerahkan untuk memastikan keamanan wilayah perairan selama acara berlangsung.
Sisi artistik event ini juga melibatkan seniman lokal melalui karya bertajuk “Tri Loka”, hasil kolaborasi Ketut Yuliarsa dan Kuncir Sathya Viku. Konsep ini menggambarkan keseimbangan alam semesta dalam filosofi Bali yang menghubungkan laut, udara, dan daratan—selaras dengan gerakan para atlet saat melompat dari tebing ke laut.




