Mengapa Berbicara dengan Ibu Bisa Meredakan Stres?
Pernahkah kamu mengalami hari yang rasanya begitu berat? Mungkin atasan di kantor baru saja memberikan teguran atau tumpukan pekerjaan seolah tidak ada habisnya. Pada momen penuh tekanan seperti ini, sosok pertama yang sering kali terlintas di pikiran kita adalah ibu. Bukan tanpa alasan mengapa kita tiba-tiba rindu atau ingin mendengar suaranya. Ternyata, dorongan untuk menelepon ibu saat sedang banyak pikiran bukanlah sekadar reaksi emosional semata, melainkan ada penjelasan sains di baliknya.
Berbicara dengan ibu bisa meredakan stres? Berikut beberapa fakta yang didukung oleh studi ilmiah:
Penelitian Menunjukkan Manfaat Berkomunikasi dengan Ibu
Sebuah penelitian dari University of Wisconsin-Madison menemukan bahwa berbicara dengan ibu dapat memberikan efek positif pada tingkat stres. Dalam penelitian tersebut, 68 gadis muda, berusia 7 hingga 12 tahun, diberikan tugas yang menegangkan, yaitu menjawab soal matematika dan verbal selama 15 menit di depan banyak orang. Setelah itu, mereka dibagi ke dalam empat kelompok berbeda:
- (a) Menunggu sendiri tanpa berhubungan dengan ibu,
- (b) Mengobrol langsung dengan ibu,
- (c) Mengobrol dengan ibu lewat telepon,
- (d) Berkomunikasi dengan ibu melalui pesan teks.
Setelah itu, para peneliti mengukur kadar kortisol (hormon stres) dan oksitosin (hormon yang berhubungan dengan ikatan, kepercayaan, serta empati) dalam urin para partisipan.
Dari eksperimen tersebut, ditemukan tiga alasan tentang manfaat berkomunikasi langsung dengan ibu atau menelepon dibandingkan dengan hanya mengirim pesan teks.

1. Menurunkan Kadar Hormon Kortisol
Kortisol sering dijuluki sebagai hormon stres. Saat kamu sedang panik, tertekan, atau kewalahan, tubuh secara otomatis akan memproduksi hormon ini dalam jumlah besar sebagai bentuk respons perlawanan alami. Dalam penelitian ini, para ahli memberikan tugas sulit kepada peserta untuk memicu lonjakan kortisol mereka. Setelah tingkat stres memuncak, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk ditenangkan.
Kelompok pertama dipertemukan langsung dengan ibu mereka, kelompok kedua diizinkan menelepon ibunya, dan kelompok lainnya hanya bertukar pesan teks atau tidak berkomunikasi sama sekali. Hasilnya mengejutkan! Peserta yang berbicara langsung maupun sekadar mendengar suara ibunya lewat telepon mengalami penurunan kadar kortisol yang sangat drastis.
Jadi, saat beban di pundak terasa terlalu berat, mendengar ibu bertanya, “Halo, kamu lagi apa, Nak?” di seberang telepon sudah cukup memberikan sinyal ke otak bahwa kamu aman dan semuanya akan baik-baik saja.

2. Memicu Pelepasan Hormon Oksitosin
Selain meredam hormon stres, berbicara dengan ibu juga memicu pelepasan oksitosin. Oksitosin dikenal luas sebagai “hormon cinta” atau “hormon pelukan”. Hormon inilah yang berperan penting dalam membuat kita merasa bahagia, disayangi, dan terhubung secara batin dengan orang lain.
Umumnya, para ahli meyakini bahwa oksitosin hanya bisa dilepaskan secara optimal melalui kontak fisik, seperti saat kita berpelukan, berpegangan tangan, atau bersandar di bahu. Namun, studi ini ternyata mematahkan anggapan lawas tersebut. Fakta yang paling mengejutkan dari penelitian Seltzer adalah bahwa kadar oksitosin pada kelompok yang hanya mendengar suara ibu melalui telepon meningkat sama tingginya dengan kelompok yang bertemu dan berpelukan langsung dengan ibu mereka.
Ini membuktikan bahwa getaran suara ibu dan intonasi kasih sayangnya memiliki kekuatan penenang yang sama dengan sebuah pelukan fisik. Penemuan ini tentunya sangat melegakan, terutama bagi kamu yang mungkin saat ini sedang merantau dan tinggal berjauhan dengan orangtua.

3. Berbicara Lebih Ampuh Dibanding Sekadar Pesan Teks
Di era serba digital seperti sekarang, kita lebih terbiasa mengirim pesan singkat lewat chat karena dianggap jauh lebih praktis dan cepat. Ketika sedang penat, kamu mungkin berpikir bahwa sekadar curhat lewat pesan teks kepada ibu sudah cukup untuk melegakan hati. Namun, sayangnya sains berkata lain tentang hal ini.
Penelitian tersebut secara khusus menyoroti bahwa mengetik pesan teks tidak memberikan manfaat psikologis yang setara. Kelompok peserta yang hanya bertukar pesan teks dengan ibu mereka ternyata memiliki kadar hormon stres yang masih sangat tinggi. Singkatnya, respons otak mereka saat chatting hampir sama dengan kelompok yang tidak berkomunikasi dengan ibu sama sekali.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Teks tulisan tidak memiliki elemen vokal yang membawa kehangatan emosional. Otak kita telah didesain sedemikian rupa sejak bayi untuk mengenali dan merespons frekuensi suara orang yang merawat kita. Membaca tulisan “Semangat ya!” di layar ponsel tidak akan pernah bisa menandingi magisnya rasa tenang yang muncul saat telinga kita mendengarnya diucapkan secara langsung.




