Strategi Pemkot Surabaya dalam Mengatasi Banjir dan Genangan
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya menuntaskan masalah banjir dan genangan di wilayah Selatan dan Timur. Sejak Januari 2026, tiga rumah pompa baru telah beroperasi sebagai bagian dari strategi penguatan sistem pengendalian banjir. Keberadaan rumah pompa tersebut diharapkan dapat mempercepat surutnya air sekaligus mengurangi beban saluran di kawasan padat pemukiman.
Lokasi dan Fungsi Rumah Pompa Baru
Rumah pompa baru tersebut berada di tiga lokasi strategis, yaitu Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani. Masing-masing memiliki kapasitas 6,5 meter kubik per detik dan dilengkapi dengan tiga unit pompa serta saringan sampah untuk mendukung percepatan aliran air. Penempatan rumah pompa ini bertujuan untuk membagi beban aliran air secara merata dan mencegah penumpukan di satu titik.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa penanganan banjir di wilayah selatan dan timur menjadi prioritas utama Pemkot yang ditargetkan tuntas pada tahun ini. Untuk mencapai target tersebut, Pemkot menjalankan berbagai langkah strategis seperti pembangunan rumah pompa, pengerukan saluran, pengaturan elevasi air, hingga pembangunan storage atau box penampungan air.
Perubahan Arah Aliran Air
Salah satu tantangan utama banjir di wilayah selatan berasal dari penumpukan beban aliran air yang tidak proporsional. Aliran air dari kawasan Karah dan Jambangan bermuara ke Avour Wonorejo, sehingga memicu banjir dan antrean air. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya melakukan evaluasi lapangan dan memanfaatkan saluran Kebon Agung yang memiliki kapasitas lebih longgar.
Dengan skema tersebut, aliran dari kawasan Karah dan Jambangan tidak lagi dialirkan ke Margorejo dan menuju Avour Wonorejo. “Saya minta aliran dari Karah-Jambangan yang menuju Margorejo ditutup, lalu dialihkan menuju Kebon Agung. Sementara aliran di Margorejo diteruskan ke Avour Wonorejo,” ujar Wali Kota Eri.
Teknis Pengukuran Elevasi dan Pemetaan Aliran Air
Pemkot Surabaya juga menekankan pentingnya pemetaan aliran air sebagai faktor kunci dalam penanganan banjir. Perubahan arah aliran, elevasi saluran, hingga posisi rumah pompa harus dihitung secara detail agar sistem pengendalian banjir berjalan optimal. Dalam tinjauan tersebut, para camat dan lurah diminta memahami teknis pengukuran elevasi menggunakan alat seperti theodolite dan waterpass.
Metode Pembangunan Berdasarkan Kondisi Saluran
Selain membangun rumah pompa baru, Pemkot Surabaya juga menyesuaikan metode pembangunan berdasarkan kondisi saluran di wilayah timur. Di sisi saluran Jemursari sampai Sarono Jiwo, pembangunan akan dilakukan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP). Sementara di kawasan Panjang Jiwo, pelebaran saluran tidak memungkinkan dilakukan karena terhalang jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt.
Sebagai solusi alternatif, Pemkot Surabaya akan membangun storage air di jalan untuk membagi aliran menuju sungai besar maupun rumah pompa. “Fungsi storage itu adalah untuk pembagian air,” ujar Wali Kota Eri.
Pengaruh Perubahan Fungsi Lahan
Selain persoalan infrastruktur, Pemkot Surabaya juga menilai genangan dipengaruhi oleh perubahan fungsi lahan dan berkurangnya area resapan akibat semakin padatnya permukiman. “Jika semua resapan habis dengan rumah, maka air hujan langsung masuk ke irigasi,” tuturnya.
Meski demikian, Wali Kota Eri optimistis titik-titik genangan yang saat ini menjadi fokus penanganan dapat bebas banjir pada November 2026. Langkah penanganan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka pendek penanganan genangan di wilayah selatan dan timur.
Peningkatan Kapasitas Rumah Pompa yang Ada
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, menjelaskan bahwa pembangunan rumah pompa disesuaikan dengan perubahan titik genangan akibat pesatnya pembangunan. “Dulu lahan terbuka hijau masih banyak. Sekarang dengan bertambahnya permukiman, air hujan tidak lagi terserap ke tanah melainkan langsung lari ke saluran (paving/aspal). Jadi beban saluran kita otomatis jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Hidayat menyebut bahwa selama beberapa bulan difungsikan, ketiga rumah pompa baru itu terbukti efektif meminimalisir genangan di wilayah sekitarnya. Rumah Pompa Ahmad Yani misalnya, difungsikan untuk mengatasi genangan di kawasan Jalan Gayung Kebonsari (Injoko) dan Kebonsari Barat. Sedangkan Rumah Pompa Margorejo, mengatasi genangan di kawasan Margorejo, Bendul Merisi, dan Sidosermo.
Kesiapan Infrastruktur dan Partisipasi Masyarakat
Sementara itu, Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menambahkan bahwa hingga saat ini Surabaya telah memiliki total 90 rumah pompa yang tersebar di berbagai wilayah. Pada tahun 2026, pembangunan rumah pompa baru terus dikebut di beberapa kawasan padat, seperti Nginden Intan, Panjang Jiwo, Ketintang, Tambak Segaran, dan Margomulyo.
Adi mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi rumah pompa tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air. “Harapan kami titik genangan yang sudah dipetakan sejak 2020 bisa kita selesaikan bertahap. Namun, kami juga sangat meminta partisipasi masyarakat,” kata Adi.
Karenanya, pihaknya juga meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membuang sampah ke saluran air karena dapat menghambat kinerja rumah pompa. “Tolong jangan buang sampah di saluran, karena jika sampah menumpuk di penyaringan rumah pompa, proses penyedotan air otomatis akan terhambat,” pungkasnya.



