Kesenjangan Antara Rasa Aman dan Tindakan Nyata di Dunia Digital
Indonesia telah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna internet yang pesat. Namun, meski sebagian besar masyarakat merasa aman saat beraktivitas di dunia digital, riset terbaru menunjukkan bahwa perilaku keamanan mereka masih jauh dari ideal. Dalam laporan Asia-Pacific Cyber Safety Landscape 2026, ditemukan adanya kesenjangan besar antara rasa aman dan tindakan nyata yang dilakukan oleh pengguna internet di Indonesia.
Sebanyak 94 persen responden Indonesia menyatakan bahwa kebiasaan keamanan digital mereka sudah baik atau sangat baik. Namun, hanya 44 persen yang benar-benar menerapkan praktik keamanan siber yang kuat secara konsisten. Artinya, banyak pengguna merasa sudah aman, tetapi belum disiplin dalam melindungi akun dan data pribadi mereka.
Salah satu kebiasaan paling berisiko adalah penggunaan password yang sama untuk beberapa akun. Riset bolttech mencatat bahwa 71 persen responden Indonesia masih menggunakan kata sandi yang sama untuk beberapa layanan digital. Kebiasaan ini paling umum ditemukan pada kelompok usia 26-41 tahun. Risikonya cukup besar: jika satu akun bocor, pelaku bisa mencoba email dan password yang sama ke layanan lain seperti media sosial, e-commerce, dompet digital, hingga mobile banking.
Paparan terhadap ancaman siber juga tinggi. Sebanyak 92 persen responden Indonesia mengaku pernah menerima atau menghadapi upaya penipuan digital. Dari jumlah tersebut, 44 persen mengaku pernah menjadi korban penipuan, peretasan, atau kejahatan siber lainnya. Dampaknya langsung terasa di kantong. Bolttech mencatat bahwa 81 persen korban kejahatan siber di Indonesia mengalami kerugian finansial. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata Asia-Pasifik yang sebesar 67 persen.
Data tersebut sejalan dengan laporan OJK. Hingga 17 Agustus 2025, Indonesia Anti-Scam Centre menerima 225.281 laporan. Total kerugian dana korban mencapai Rp4,6 triliun. OJK juga mencatat 72.145 rekening telah diblokir dan Rp349,3 miliar dana korban berhasil diblokir.
Ancaman penipuan semakin sulit dikenali karena perkembangan kecerdasan buatan (AI). Dalam riset bolttech, 93 persen responden Indonesia khawatir AI akan mempercepat penyebaran penipuan online. Kekhawatiran itu masuk akal karena AI kini bisa digunakan untuk membuat pesan penipuan yang lebih rapi, personal, dan meyakinkan. Teknologi seperti deepfake juga bisa digunakan untuk meniru wajah atau suara seseorang.
Saluran penipuan yang paling sering ditemui pengguna Indonesia masih dekat dengan aktivitas sehari-hari. Riset bolttech mencatat bahwa penipuan lewat panggilan telepon menjadi yang paling sering ditemui, dengan porsi 61 persen. Setelah itu ada SMS mencurigakan sebesar 50 persen dan aplikasi perpesanan sebesar 49 persen.
Masalahnya, banyak pengguna belum tahu harus berbuat apa saat menghadapi ancaman tersebut. Hanya 37 persen masyarakat Indonesia yang yakin mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi ancaman siber.
David Black, Pendiri dan CEO Blackbox Research, mengatakan bahwa penipuan telah menjadi hambatan besar dalam ekonomi digital kawasan. “Penipuan telah menjadi hambatan yang tak terhindarkan dalam ekonomi digital kawasan ini,” ujar David Black. Ia menilai ada jarak besar antara kekhawatiran publik dan tindakan pribadi. Banyak orang sadar ada ancaman, tetapi belum mengubah kebiasaan digital mereka.
Andrew Cons, Director Strategic Initiatives bolttech, mengatakan bahwa keamanan siber perlu dilihat sebagai tanggung jawab bersama. “Keamanan siber adalah tanggung jawab bersama, dan para pemangku kepentingan harus benar-benar bersatu untuk mewujudkannya,” ujar Andrew Cons. Pernyataan itu relevan karena hampir satu dari dua responden dalam riset bolttech memandang keamanan siber sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah, perbankan, operator telekomunikasi, platform teknologi, dan individu.
Bagi industri digital, temuan ini menjadi peringatan. Perlindungan pengguna tidak bisa hanya mengandalkan edukasi. Bank, operator, marketplace, platform teknologi, dan penyedia layanan digital perlu membuat sistem keamanan yang lebih mudah dipakai dan lebih cepat mendeteksi penipuan. Namun, pengguna juga tetap perlu memperbaiki kebiasaan dasar. Mulai dari memakai password berbeda untuk setiap akun, mengaktifkan autentikasi dua faktor, tidak asal membuka tautan, mengecek nomor pengirim, dan tidak menginstal aplikasi dari sumber tidak resmi.
Riset bolttech menunjukkan paradoks keamanan digital di Indonesia. Masyarakat makin percaya diri menggunakan internet, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi risikonya. Rasa aman di internet tidak cukup. Di tengah maraknya scam digital dan penyalahgunaan AI, keamanan harus dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.





