Indonesia Menghadapi Ancaman Hilangnya Perhatian Dunia Internasional
Dr. Emaridial Ulza, peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial UHAMKA sekaligus Founding Director Global Trust Intelligence (GTI), menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi ancaman hilangnya posisi dalam perhatian dunia internasional. Dalam laporannya, ia memperkenalkan konsep strategic invisibility trap, yaitu kondisi di mana suatu negara tidak lagi hadir dalam persepsi global.
Menurut Emaridial, hal ini bukan berarti Indonesia dipandang buruk, tetapi justru tidak muncul dalam narasi global sama sekali. Dalam dunia yang bergerak cepat, negara yang tidak muncul dalam narasi global cenderung tidak diperhitungkan. Ia menekankan bahwa dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global tidak hanya merespons data, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh narasi yang terus berulang dan tertanam dalam ingatan publik.
“Negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar,” ujarnya. Contoh yang disampaikan adalah Iran, yang tetap menjadi bagian dari percakapan global meskipun berada dalam konflik besar. Sementara itu, Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil justru tidak muncul sebagai aktor penting dalam narasi global.
Dampak Terhadap Ekonomi Nasional
Emaridial menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan berdampak langsung terhadap ekonomi nasional. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya nyata, seperti investasi asing yang tertunda, biaya pinjaman yang meningkat, hingga potensi capital outflow.
Selain itu, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—mengalami tekanan secara bersamaan. “Kondisi ini lebih kompleks dibanding krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang bisa menjadi penyangga,” kata Emaridial.
Perspektif Geopolitik
Dari sisi geopolitik, ia mengingatkan bahwa krisis energi global akibat konflik Timur Tengah berpotensi melemahkan posisi negara-negara ASEAN dalam negosiasi dengan China, khususnya di kawasan Laut China Selatan. “Pergeseran ini bisa berdampak pada keseimbangan keamanan kawasan, termasuk wilayah strategis Indonesia seperti Natuna,” ujarnya.
Meski demikian, Emaridial menilai Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan yang diakui secara global, seperti keberhasilan menghimpun pajak ekonomi digital hingga masuk tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi besar dalam pembangunan sumber daya manusia. Namun, keunggulan tersebut dinilai belum dikomunikasikan secara efektif di tingkat global.
Pentingnya Narasi dalam Era Global
“Di era sekarang, narasi bukan lagi pelengkap, tapi penentu arah ekonomi. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya, dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor penting,” tegasnya.
Laporan ini disusun menggunakan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), yang mengintegrasikan pendekatan international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi Keynesian. Emaridial pun mengingatkan bahwa Indonesia kini berada di persimpangan penting dalam percaturan global. Indonesia harus memilih tetap menjadi penonton dalam percakapan global, atau mulai membangun posisi sebagai aktor yang diperhitungkan. Karena dalam sistem global hari ini, yang tidak terlihat, berisiko untuk tidak dianggap ada.




