Timnas Iran telah dipastikan akan tampil di Piala Dunia FIFA 2026, meskipun situasi politik antara Iran dan Amerika Serikat masih memanas. Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) menuntut jaminan resmi dari FIFA agar delegasi mereka tidak mendapat perlakuan diskriminatif atau penghinaan terhadap simbol negara, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Ketua FFIRI, Mehdi Taj, menyampaikan kekhawatiran ini setelah insiden yang dialami oleh delegasi Iran di Kanada pekan lalu. Insiden tersebut menjadi alasan utama bagi Iran untuk memastikan hal serupa tidak terjadi saat mereka datang ke Amerika Serikat untuk mengikuti fase grup Piala Dunia 2026.
Mengapa Iran Mendesak FIFA Memberi Jaminan?
Iran meminta kepastian karena delegasi mereka sempat mengalami masalah serius saat hendak menghadiri Kongres FIFA di Vancouver, Kanada. Rombongan FFIRI akhirnya kembali pulang setelah visa Mehdi Taj dibatalkan ketika dirinya masih dalam penerbangan menuju Kanada.
Pemerintah Kanada menjelaskan bahwa pembatalan visa itu terkait dugaan keterkaitan Taj dengan IRGC. Kanada sendiri telah menetapkan IRGC sebagai entitas teroris sejak 2024, mengikuti langkah Amerika Serikat yang lebih dulu mengambil kebijakan serupa pada 2019.
Dalam pernyataannya kepada media pemerintah Iran, Taj menegaskan bahwa federasi membutuhkan perlindungan dari FIFA selama mengikuti turnamen. Ia berharap tidak ada pihak yang berhak menghina simbol sistem Iran, terutama IRGC.
FIFA Mulai Bergerak Setelah Insiden Kanada
Setelah polemik di Vancouver mencuat, FIFA langsung mencoba meredakan situasi dengan menghubungi FFIRI. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, mengirim surat berisi penyesalan atas ketidaknyamanan yang dialami delegasi Iran.
FIFA juga mengundang FFIRI ke Zurich pada 20 Mei mendatang untuk membahas persiapan menuju Piala Dunia 2026. Pertemuan ini diperkirakan menjadi momentum penting untuk memastikan Iran tetap bisa berpartisipasi tanpa hambatan diplomatik.
Iran Sebut Tuan Rumah Piala Dunia adalah FIFA, Bukan Trump
Pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membuat kekhawatiran Iran semakin besar. Taj bahkan menyebut bahwa delegasi Iran bisa mempertimbangkan untuk membatalkan perjalanan apabila tidak ada jaminan yang jelas dari FIFA.
“Kami pergi ke Piala Dunia karena kami lolos, dan tuan rumah kami adalah FIFA (bukan Presiden Trump atau Amerika),” ujarnya. Pernyataan ini memicu perhatian luas karena menunjukkan ketegangan politik mulai masuk ke ranah sepak bola internasional.
Persiapan Iran Tetap Berjalan di Tengah Konflik Timur Tengah
Meski dihantui ketidakpastian diplomatik, Iran tetap menjalani persiapan menuju Piala Dunia 2026. Tim nasional Iran menggelar pemusatan latihan di Teheran setelah kompetisi domestik sempat dihentikan akibat meningkatnya konflik kawasan.
Ketegangan regional meningkat sejak akhir Februari setelah terjadi serangan udara antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini membuat agenda sepak bola Iran ikut terdampak, termasuk jadwal liga domestik dan program latihan pemain.
Sebagian besar pemain lokal kini fokus menjalani latihan intensif demi menjaga kebugaran sebelum memasuki agenda internasional. Iran juga merancang sejumlah laga uji coba untuk meningkatkan kesiapan tim menghadapi lawan-lawan berat di Piala Dunia.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah pertandingan persahabatan melawan Turkiye. Uji coba ini dinilai penting karena Iran ingin mengukur kekuatan tim di tengah situasi politik yang belum stabil.
Iran sendiri menjadi salah satu negara Asia yang rutin tampil di Piala Dunia dalam beberapa edisi terakhir. Namun, menjelang 2026, sorotan terhadap mereka bukan hanya soal sepak bola, melainkan juga dampak konflik geopolitik terhadap ajang olahraga terbesar di dunia tersebut.





