Bantuan ITS untuk Korban Banjir Aceh Capai Rp2,75 Miliar
Bantuan yang diberikan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kepada korban banjir Aceh telah mencapai angka fantastis yaitu sekitar Rp2,75 miliar. Bantuan tersebut tidak hanya berupa logistik dan air bersih, tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan serta kepedulian dari berbagai lembaga dalam lingkungan ITS.
Penghargaan dari Warga Aceh
Warga Aceh di Surabaya dan sekitarnya memberikan penghargaan kepada sejumlah lembaga dari ITS atas kontribusi luar biasa dalam penanganan bencana banjir Aceh. Penghargaan ini diberikan dalam acara Halal Bihalal Kekeluargaan Tanah Rencong (KTR) di Gedung Grha Mahameru pada Minggu (19/4/2026).
Penghargaan tersebut diberikan kepada Yayasan Manarul Ilmi (YMI) ITS, Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, dan Ikatan Alumni (IKA) ITS. Ketua Dewan Penasehat KTR Surabaya, Hamdani Bantasyam menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk terima kasih masyarakat Aceh atas kontribusi yang sangat berarti.
“Penghargaan ini kami berikan mewakili masyarakat Aceh di seluruh dunia atas kontribusi luar biasa dari DRPM ITS, Yayasan Manarul Ilmi ITS, dan IKA ITS yang total bantuannya mencapai sekitar Rp2,75 miliar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi Aceh hingga saat ini masih membutuhkan dukungan berbagai pihak. “Kami berharap kepedulian ini terus berlanjut karena masih banyak saudara-saudara kami yang membutuhkan bantuan,” katanya.
Upaya yang Dilakukan oleh Satgas Kemanusiaan ITS
Koordinator Satgas Kemanusiaan ITS untuk Aceh, Prof. Dr. Nurul Jadid, mengungkapkan apresiasi atas penghargaan tersebut sekaligus menegaskan bahwa upaya yang dilakukan belum sebanding dengan penderitaan masyarakat terdampak.
“Apa yang kami lakukan sebenarnya tidak sebanding dengan kondisi yang dialami masyarakat Aceh. Namun kami terus berkomitmen menjalankan misi kemanusiaan bersama YMI dan IKA ITS,” jelasnya.
Sejak Desember 2025 hingga saat ini, tim Satgas Kemanusiaan ITS masih berada di Aceh, terutama untuk mendukung penyediaan air bersih. Berbagai bantuan telah disalurkan, mulai dari tenaga kesehatan, dapur umum di wilayah Pidie Jaya dan Bireuen, hingga instalasi pengolahan air bersih (reverse osmosis).
“Ada dua unit instalasi yang kami tempatkan di Lhokseumawe dan Pidie Jaya, serta dua unit mobile water treatment yang hingga kini masih beroperasi di Huntara Aceh Tamiang,” tambahnya.
Selain itu, distribusi logistik juga dilakukan ke berbagai wilayah terdampak dengan dukungan berbagai pihak, termasuk TNI dan masyarakat setempat, sehingga mampu menjangkau daerah yang sebelumnya sulit diakses.
Gerakan Bantuan Melalui Jejaring Alumni
Perwakilan PP IKA ITS, Adi Dharma, menjelaskan bahwa gerakan bantuan dilakukan secara terstruktur melalui jejaring alumni, baik di dalam maupun luar negeri. “Kami langsung membentuk program fundraising. Tidak hanya dari pengurus pusat, tetapi juga didukung PW Jawa Timur, Aceh, Sumatera Utara, bahkan alumni ITS di luar negeri seperti di Qatar,” ujarnya.
Menurutnya, pembagian peran dilakukan secara sistematis, mulai dari perencanaan program di pusat hingga pelaksanaan di lapangan oleh perwakilan wilayah terdekat dengan lokasi bencana.
Kolaborasi yang Efektif
Perwakilan YMI ITS, Budiono, menyampaikan bahwa pihaknya bergerak cepat menggalang donasi melalui jaringan yang telah terbentuk. “Kami menghimpun donasi dari keluarga besar ITS, mulai dari alumni, dosen, mahasiswa, hingga mitra lembaga. Seluruh bantuan disalurkan melalui program yang dirancang bersama dan dilaporkan secara transparan kepada para donatur,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara YMI ITS, IKA ITS, dan DRPM ITS menjadi kekuatan utama dalam memastikan bantuan tersalurkan secara efektif dan tepat sasaran.
Acara Silaturahmi dan Penguatan Solidaritas
Acara ini juga dihadiri perwakilan Pemerintah Aceh serta warga Aceh dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Sidoarjo, Gresik, Lamongan, dan Mojokerto. Selain penyerahan penghargaan, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan penguatan solidaritas diaspora Aceh.





