Investasi Besar Adani Group dalam Infrastruktur AI
Adani Group, sebuah konglomerat energi dan infrastruktur dari India, mengumumkan rencana investasi besar senilai USD 100 miliar atau sekitar Rp 1.683 triliun dengan kurs Rp 16.830 per dolar AS. Investasi ini akan digunakan untuk membangun jaringan pusat data berbasis energi terbarukan yang dirancang untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan hingga tahun 2035. Langkah ini menunjukkan komitmen serius India dalam memperkuat posisinya dalam persaingan global di bidang infrastruktur AI.
Investasi tersebut akan berfokus pada penggunaan energi terbarukan, sehingga membantu membangun fondasi komputasi skala besar yang diperlukan dalam pengembangan teknologi AI. Selain itu, grup ini juga akan mengalokasikan tambahan USD 55 miliar atau sekitar Rp 926 triliun untuk memperluas portofolio energi terbarukan, termasuk pembangunan sistem penyimpanan energi baterai terbesar di dunia.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh Reuters, Rabu (18/2/2026), diperkirakan bahwa investasi sebesar USD 100 miliar akan memicu penambahan dana sebesar USD 150 miliar di sektor terkait, seperti manufaktur server dan platform komputasi awan berdaulat. Secara keseluruhan, langkah ini diproyeksikan akan membentuk ekosistem infrastruktur AI senilai USD 250 miliar atau sekitar Rp 4.209 triliun di India dalam satu dekade mendatang.
Ketua Adani Group, Gautam Adani, menyampaikan ambisi geopolitik teknologinya. “Selama beberapa dekade kita mengimpor teknologi. Sekarang kita membangun tulang punggungnya,” ujarnya melalui platform X. Ia juga menambahkan, “India tidak akan hanya mengikuti abad AI. India akan membentuknya.” Pernyataan ini menegaskan tekad negara untuk tidak lagi berada di pinggiran revolusi teknologi global.
Secara teknis, Adani akan meningkatkan kapasitas pusat data dari 2 gigawatt menjadi 5 gigawatt, yang diklaim akan membentuk platform pusat data terintegrasi terbesar di dunia. Model yang dikembangkan menghubungkan energi terbarukan, ketahanan jaringan listrik, dan komputasi AI dalam satu ekosistem terpadu.
Sementara itu, analis pasar independen Ambareesh Baliga menilai infrastruktur tersebut akan menjadi fondasi utama dalam ekosistem kecerdasan buatan. “Pusat data yang dirancang untuk kebutuhan AI akan menjadi tulang punggung ekosistem kecerdasan buatan. Wajar jika kelompok usaha bermodal besar bersiap sejak dini dengan membangun fasilitas seperti ini,” ujarnya. Selain itu, ia menambahkan, perusahaan besar seperti Reliance dan Adani bergerak cepat untuk menangkap peluang dari disrupsi teknologi yang sedang berlangsung.
Di saat yang sama, langkah Adani terjadi di tengah gelombang investasi besar di India oleh raksasa global seperti Google, Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft. Perusahaan domestik seperti Reliance Industries dan Tata Consultancy Services juga meningkatkan belanja infrastruktur AI.
Namun demikian, India selama ini tertinggal dalam manufaktur chip semikonduktor, sehingga pembangunan pusat data dinilai sebagai peluang paling realistis untuk mengambil posisi strategis dalam rantai nilai AI global. Dengan mengandalkan keunggulan energi terbarukan dan pasar domestik yang besar, India berupaya menawarkan alternatif baru di tengah dominasi Amerika Serikat dan Tiongkok dalam infrastruktur komputasi canggih.
Sejalan dengan pengumuman tersebut, reaksi pasar menunjukkan respons positif. Saham Adani Enterprises ditutup naik 2,7 persen dan menjadi penguat utama indeks Nifty 50 pada hari pengumuman. Kenaikan ini mencerminkan optimisme investor terhadap peran Adani dalam membentuk arsitektur digital India.
Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, taruhan USD 100 miliar ini bukan sekadar ekspansi bisnis. Investasi tersebut mencerminkan ambisi strategis India untuk berdiri sejajar dengan pusat kekuatan teknologi dunia, sekaligus menggeser peta global AI melalui integrasi energi dan komputasi.





