Kampung Robot: Membangun Dunia Teknologi dari Nol
Di sebuah gang sempit di Jombang, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, berdiri sebuah rumah yang tak biasa. Bukan tanaman hias atau pagar tinggi, melainkan robot-robot berukuran besar yang berjajar gagah di depan rumah, seolah menjadi penjaga kawasan. Setiap orang yang melintas seketika dibuat menoleh, mata terpaku, rasa penasaran tumbuh apa gerangan tempat unik yang menyulap gang sederhana ini menjadi dunia futuristik di tengah permukiman warga.
Di rumah tersebut terpampang jelas tulisan “Kampong Robot” di bagian depan. Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung disambut deretan robot yang telah dikemas dan dipajang rapi di dalam etalase, tersusun seperti koleksi berharga hasil karya tangan-tangan kreatif. Memasuki ruangan berikutnya, pandangan kian dimanjakan oleh robot-robot berukuran lebih besar yang berdiri tegak dan tertata rapi di depan sebuah banner bertuliskan “22nd International Youth Metaverse Robot Challenge”, menghadirkan suasana kompetisi internasional di tengah rumah.
Di baliknya, terdapat beberapa ruangan lain yang menjadi ruang belajar, tempat para murid mengikuti kelas pembuatan robot, ruang-ruang yang dipenuhi aktivitas, dan semangat generasi muda dalam mengenal teknologi sejak dini.
Perjalanan Awal Kampung Robot
Lantas, bagaimana kisah di balik berdirinya Kampung Robot ini? Di tengah keterbatasan akses teknologi di Indonesia pada awal 2000-an, seorang pria bernama Firdiansyah mengambil keputusan besar yang mengubah jalan hidupnya. Ia merantau ke Jakarta sejak tahun 2000 dan memilih meninggalkan pekerjaan mapan di pusat telekomunikasi demi satu mimpi menghadirkan pendidikan robotik yang terjangkau bagi anak-anak Indonesia.
“Waktu itu sekitar 2007-2008, kami sangat prihatin dengan kondisi Indonesia. Teknologi, khususnya robotik, hanya bisa diakses sekolah-sekolah tertentu, sekolah internasional, dan kalangan tertentu saja,” ujar Firdiansyah. Keprihatinan itulah yang kemudian menjadi awal mula lahirnya komunitas robotik yang kelak berkembang menjadi Kampung Robot.
Pada usia sekitar 30-an tahun, Firdiansyah nekat keluar dari pekerjaannya di Sudirman dengan gaji belasan juta rupiah. “Saya keluar tanpa pesangon. Orang bilang saya orang gila. Kerja rapi pakai dasi, lalu malah ke Banten untuk bikin robot,” ujar pria kelahiran Lumajang itu.
Langkah awal itu ia mulai di Kota Serang, Banten, bukan di pusat-pusat pendidikan modern seperti Jakarta atau BSD. Dengan modal terbatas dari BPJS Ketenagakerjaan sekitar 20 juta rupiah, ia membangun semuanya seorang diri. “Saya benar-benar mulai dari nol. Kerja sendiri, bikin kurikulum sendiri, silabus sendiri, sampai marketing sendiri bertahun-tahun,” tuturnya.
Latar belakang pendidikan teknik dari ITS Surabaya menjadi bekal utama. Ia meyakini teknologi tidak seharusnya mahal dan eksklusif. “Kalau orang lain bisa bikin robot, kenapa saya enggak? Kalau mereka bisa bikin robot mahal, kenapa saya tidak bikin robot yang murah?” ujarnya.
Tantangan dan Perubahan Strategi
Namun, memperkenalkan robotik di masa itu bukan perkara mudah. Menurut lelaki kelahiran Jawa Timur itu, edukasi menjadi kunci utama. “Saya banyak ngisi seminar di sekolah, kampus, sampai seminar parenting. Anak-anak masa depan tidak bisa disiapkan dengan cara-cara masa kini, tapi dengan cara-cara masa depan – coding, AI, teknologi,” jelasnya.
Dua tahun pertama menjadi masa paling berat. Sekolah-sekolah yang dibuka kerap tutup kembali, tekanan finansial dan mental datang silih berganti. “Di tahun kedua dan ketiga, saya sudah kepikiran mau nutup bisnis. Tekanannya luar biasa,” ungkapnya.
Perubahan strategi dan pembelajaran dari berbagai negara seperti Singapura dan Malaysia perlahan membuahkan hasil. Hingga kini, dalam kurun waktu 16 tahun, program robotik yang ia kembangkan telah menginspirasi sekitar 1.000 sekolah aktif, dengan lebih dari 300 sekolah berada di wilayah Jabodetabek dan Banten.
Ujian terberat kembali datang saat pandemi Covid-19. Bisnisnya nyaris runtuh. “Sekolah yang tadinya hampir 500, langsung habis. Karyawan dari 30-40 orang tinggal dua,” katanya. Di tengah keterpurukan itu, Firdiansyah justru menemukan arah baru. Ia meninggalkan Jakarta, mencari inspirasi ke Yogyakarta dan Semarang, lalu berkolaborasi dengan para seniman untuk menciptakan robot-robot patung berukuran besar ikon yang kini dikenal sebagai bagian dari Kampung Robot.
“Daripada sama-sama nganggur, saya ajak mereka bikin robot 2-3 meter. Kita belajar bareng dengan nekat,” ujarnya. Pandemi juga membuka peluang baru melalui lomba robotik daring internasional. Anak-anak dari daerah yang sebelumnya tak tersentuh teknologi mulai unjuk gigi. “Banyak anak daerah menang lomba di Singapura, India, sampai Rusia. Ternyata potensinya luar biasa,” kata Firdiansyah.
Visi Masa Depan
Puncaknya, pada tahun 2022, ia mendapat penghargaan dari asosiasi internasional sebagai salah satu pusat robotik terbaik di dunia, baik dari sisi penjualan maupun inspirasi. Kini, visinya jauh lebih besar. Hingga 2030, ia menargetkan dapat menginspirasi 2.030 sekolah di seluruh Indonesia.
“Robotik itu bukan hanya milik anak kota, bukan hanya yang mahal. Semua anak Indonesia berhak belajar teknologi,” pungkasnya.





