Diskusi di World Health Assembly 2026: Membangun Arsitektur Kesehatan Global yang Lebih Berkelanjutan
Pada acara World Health Assembly (WHA) 2026, sebuah diskusi publik resmi dengan tema “From Chaos to Care: Rebuilding the Global Health Architecture” diselenggarakan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) bersama Universitas Harkat Negeri (UHN). Acara ini berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Rabu (20/5/2026), dan menghadirkan berbagai pembicara dari mitra global serta pemangku kepentingan lintas sektor.
Diskusi ini bertujuan untuk memperkuat arsitektur kesehatan global agar lebih berkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Para peserta menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi sistem kesehatan global saat ini, seperti penurunan kepercayaan terhadap sistem multilateral dan ketimpangan kesehatan yang masih dirasakan di banyak negara.
Peran Masyarakat Sipil dan Pemangku Kepentingan
Diah Satyani Saminarsih, pendiri dan CEO CISDI, menekankan pentingnya desain ulang arsitektur kesehatan global yang responsif terhadap kebutuhan komunitas. Ia menyoroti perlunya kemitraan kesehatan yang dibangun dari kebutuhan nyata masyarakat dan solusi yang sesuai dengan konteks lokal.
“Solusi yang dibangun juga perlu menyesuaikan konteks lokal agar sistem kesehatan bisa lebih berkelanjutan dan benar-benar menjawab kebutuhan komunitas,” ujar Diah dalam diskusi panel.
Para pembicara lainnya termasuk David Duong dari Harvard Medical School, Dr. Kumanan Rasanathan dari WHO, Lutz Hegeman dari Novartis, Anita Sabidi dari PERSADIA Muda, dan Mikaël Garnier-Lavalley dari Pandemic Fund. Mereka semua sepakat bahwa layanan kesehatan primer harus menjadi fondasi sistem kesehatan yang tangguh dan kuat.
Tantangan pada Sistem Kesehatan Global
Rektor UHN Sudirman Said menekankan bahwa tantangan pada sistem kesehatan global tidak dapat dijawab oleh satu sektor saja. Ia menilai universitas memiliki peran penting sebagai penghubung antara realitas lokal dan pengetahuan global.
“Universitas berperan penting sebagai penghubung antara realitas lokal dan pengetahuan global, agar solusi yang dibangun benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Sudirman dalam pesan pembuka yang disampaikan melalui video.
Kumanan Rasanathan dari WHO menambahkan bahwa penguatan layanan kesehatan primer di tengah keterbatasan sumber daya global tetap perlu menjadi prioritas melalui kemitraan yang mampu mendukung kebutuhan sistem kesehatan di tingkat nasional.
“Sudah saatnya kita menepati janji untuk bekerja sama dan berkolaborasi demi kesehatan global yang lebih baik,” kata Rasanathan.
Model Kolaborasi Lintas Sektor
David Duong dari Harvard Medical School menyoroti pentingnya melibatkan orang-orang dengan pengalaman hidup langsung dalam membangun sistem layanan kesehatan yang lebih baik. Ia menekankan bahwa dunia akademik harus menjadi pelindung kebenaran dan penyebar ilmu pengetahuan.
CISDI juga memperkenalkan Primary Healthcare Impact Lab (PHIL), sebuah model kolaborasi lintas sektor yang dirancang untuk menjadi pusat inovasi dan riset fokus pada penguatan layanan kesehatan primer di Indonesia. PHIL dikembangkan bersama UHN, PT Tamaris Hidro, dan Harvard Medical School.
PHIL diluncurkan pada 7 Mei 2026 di Jakarta dan berfungsi sebagai ruang riset dan dialog lintas sektor dengan konteks lokal. Bertempat di kampus UHN di Tegal, Jawa Tengah, PHIL menggandeng Harvard Medical School sebagai mitra pengetahuan dan berupaya menunjukkan bagaimana kolaborasi berbasis lokasi dapat memberikan masukan bagi diskusi kebijakan tingkat nasional.
Presiden Direktur PT Tamaris Hidro, Mohammad Syahrial, menilai tantangan global saat ini menunjukkan pendanaan internasional semakin terbatas. Ia menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan membutuhkan komitmen bersama, termasuk dari sektor swasta.
“Kami bergabung dengan PHIL tidak sekadar untuk memberikan dukungan simbolis, tetapi berinvestasi pada kemitraan yang kami yakini mampu menjawab kesenjangan struktural dan memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat,” ucap Syahrial dalam pesan pembuka yang disampaikan melalui video.
