Fakta Baru Mengenai Keluarga Taufik Hidayat
Sebuah fakta baru terungkap mengenai latar belakang keluarga Taufik Hidayat (30), tersangka kasus penganiayaan terhadap Yuvita Tri Rezeki di Bandung. Informasi tersebut muncul setelah kasus kekerasan yang menyeret nama Taufik kembali menjadi perhatian publik.
Ibu kandung Taufik disebut meninggal dunia setelah mengalami tekanan mental yang berkepanjangan akibat perilaku anaknya. Dugaan ini memperkuat gambaran mengenai lingkungan keluarga yang tidak sehat dan konflik internal yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Selain itu, diketahui bahwa Taufik pernah menjalani hukuman penjara karena kasus kekerasan lainnya sebelum menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Yuvita. Ia sempat mendekam di balik jeruji besi selama sekitar satu setengah tahun.
Riwayat perilaku agresif Taufik juga disebut telah berlangsung sejak lama dan bahkan melibatkan anggota keluarganya sendiri. Selain diduga melakukan kekerasan terhadap Yuvita hingga menyebabkan luka serius, Taufik juga pernah dilaporkan memukul ayah kandungnya menggunakan sebatang kayu.
Kasus Pidana Taufik Hidayat 10 Tahun Lalu
Kepala Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Kusnaedi, mengungkapkan bahwa Taufik pernah ditahan karena kasus penganiayaan dan penggelapan motor. Menurutnya, kasus tersebut melibatkan kendaraan milik warga Garut dan Taufik dinyatakan bersalah dengan hukuman 1,5 tahun penjara.
Setelah masa hukumannya selesai, Kusnaedi mengaku tidak pernah bertemu lagi dengan Taufik selama sepuluh tahun. Menurut dia, perilaku brutal Taufik diakibatkan oleh terlalu dimanjakan oleh ayahnya. “Kalau ribut sama tetangga suka dibela ayahnya, jadi kesayangan,” ujar Kusnaedi.
Ibu Kandung Stress Hingga Meninggal Dunia
Kusnaedi juga mengungkap fakta bahwa ibu kandung Taufik sempat mengalami depresi sebelum meninggal dunia. Sang ibu stress karena melihat perilaku anaknya yang brutal. Bukan hanya Taufik, kakak dan adiknya juga dikenal memiliki perilaku tidak baik.
Diketahui bahwa Taufik merupakan anak ketiga dari dua bersaudara. Kakak pertamanya perempuan dan sudah meninggal dunia. Sementara itu, kakak laki-lakinya dikenal kerap membuat onar dan sering mabuk-mabukan. “Yang kedua suka mabok, kerja juga dipecat. Punya istri sudah dua kali cerai, anak satu, sering ancam orang berkelahi,” kata Kusnaedi.
Adik Taufik, yang merupakan laki-laki, juga meninggal dunia karena over dosis. “Yang bungsu meninggal karena over dosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia,” ungkap Kusnaedi.
Akibat kenakalan anak-anaknya, sang ibu dikabarkan sampai stres dan depresi. “Ibunya stress, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari),” ujar Kusnaedi. Ia menuturkan bahwa sang ibu saat itu hanya diam di rumah dan tak mau bicara atau diperiksa kesehatannya. “Istrinya gak mau dibawa diperiksa, di rumah diem, gak ngomong, lalu ada kesempatan keluar, jalan terus,” katanya lagi.
Bahkan sang suami saat itu sampai mencari keberadaan ibu Taufik Hidayat ke gunung. “Mungkin itu (saking stress melihat anak-anaknya),” ungkap Kusnaedi lagi.
Sang Ayah Pernah Dipukul
Sementara itu, sang ayah, Tata, mengaku pernah dipukul oleh Taufik Hidayat. Penyebabnya pun sepele, yakni karena Taufik ingin makan namun tidak ada apa-apa di rumahnya.
“Saya pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya lagi macul di sawah, dia di rumah lagi nganggur, mau makan gak ada apa-apa,” tutur Taufik. Selain bekerja di sawah, Taufik juga yang memasak untuk makan anak-anaknya.
“Dia datang ke sawah, langsung mukul, ngagebru (jatuh). Untung saya ada temen dua, mau mukul lagi dihalangin,” ucapnya. Kemudian setelah itu, kata dia, Taufik sempat kabur dan tak pulang ke rumah selama seminggu.
“Dia pergi kabur, gak balik lagi ke rumah. Kabur seminggu, datang lagi, minta maaf sambil nangis. Kapoekan (khilaf) katanya,” ucap Tata lagi.

Setelah menyekap dan menganiaya Yuvita selama dua tahun, Taufik akhirnya ditangkap Polda Jawa Barat pada Selasa (24/6/2026). Ia kini sedang menjalani pemeriksaan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.




