Kehadiran Agama dalam Konflik: Perspektif Jusuf Kalla
Agama sering kali dianggap sebagai sumber perdamaian dan kedamaian. Namun, dalam konteks konflik yang rumit, agama bisa menjadi alat yang digunakan untuk memperkuat perbedaan dan memicu ketegangan. Pernyataan Jusuf Kalla (JK) dalam sebuah acara kampus UGM menunjukkan bahwa agama tidak selalu berfungsi sebagaimana mestinya dalam situasi seperti ini.
Bukan Sekadar Kata-Kata
Pernyataan JK bukanlah sesuatu yang rumit atau penuh makna filosofis. Ia hanya menggambarkan realitas yang ia temui di lapangan. Di Poso dan Ambon, ia melihat bagaimana konflik terjadi, bagaimana emosi manusia naik, dan bagaimana agama justru dipakai untuk membenarkan tindakan kekerasan. Dalam situasi seperti itu, agama tidak lagi hadir sebagai penyejuk, tetapi berubah fungsi menjadi alat identitas pembatas antara “kita” dan “mereka”.
Perubahan Makna dalam Konteks Konflik
Dalam konteks konflik, istilah-istilah suci seperti “syahid” bisa berubah maknanya. Mereka tidak lagi mewakili nilai-nilai spiritual, tetapi menjadi alat psikologis yang membantu seseorang merasa benar dalam melakukan tindakan yang biasanya tidak disetujui oleh nurani. Ini mengingatkan pada gagasan Ludwig Wittgenstein tentang “permainan bahasa”, di mana makna sebuah kata bisa berubah tergantung konteks penggunaannya.
Pemahaman atas Realitas
JK tidak sedang membuat teori atau ajaran baru. Ia hanya menjelaskan apa yang ia lihat dan alami selama proses damai di Poso dan Ambon. Ia menyadari bahwa kedua pihak dalam konflik merasa benar dan merasa berada di jalan yang suci. Tanpa pengakuan ini, damai hanya akan menjadi formalitas di atas kertas.
Keterlibatan dalam Dunia Nyata
Sebagai mediator, JK harus masuk ke cara berpikir orang-orang yang sedang bertikai. Ia memahami kenapa mereka sampai pada titik itu dan menemukan bahwa agama sering kali digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Ini mirip dengan gagasan René Girard tentang mimesis hasrat yang meniru, di mana kedua pihak dalam konflik tanpa sadar meniru pola yang sama.
Pesan yang Lebih Mendalam
Pernyataan JK bukanlah tuduhan teologis, tetapi laporan sosiologis. Ia menjelaskan bagaimana orang berpikir di tengah situasi ekstrem, bukan bagaimana agama mengajarkan mereka untuk berpikir. Sayangnya, banyak orang menangkapnya secara literal, seolah-olah JK sedang menyamakan ajaran agama atau menyimpulkan sesuatu tentang Tuhan.
Kebutuhan untuk Memahami Konteks
Kita sering kali terlalu cepat menarik ucapan ke ranah doktrin atau iman, padahal konteksnya masih di level perilaku manusia. Apa yang tertulis dalam teks bisa sangat berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan. Di sinilah jarak antara teks dan konteks terasa lebar.
Kesaksian dari Pengalaman
Ada kelompok yang merasa tugasnya menjaga kemurnian ajaran, memastikan tidak ada penyimpangan dalam definisi. Itu penting. Tapi di sisi lain, ada juga orang seperti JK yang berbicara dari pengalaman, dari apa yang ia lihat dan hadapi sendiri. Keduanya tidak harus saling meniadakan.
Kesimpulan
Masalah muncul ketika kita mencampuradukkan keduanya tanpa hati-hati. Jika kita mau lebih tenang membaca pernyataan itu, sebenarnya tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Yang lebih penting adalah memahami pesan di baliknya: bahwa dalam situasi konflik, manusia bisa menggunakan apa saja untuk membenarkan tindakan mereka, bahkan hal yang paling suci sekalipun.
JK tidak sedang menyerang agama. Ia justru menunjukkan bagaimana agama bisa “dikalahkan” oleh emosi manusia ketika situasi sudah memanas. Dan dengan memahami itu, ia bisa mencari jalan untuk meredakannya. Hasilnya nyata. Poso dan Ambon yang dulu penuh luka, perlahan bisa kembali hidup berdampingan. Jadi, mungkin alih-alih sibuk memperdebatkan satu kalimat, ada baiknya kita melihat keseluruhan cerita. Karena kadang, satu kalimat memang tidak cukup untuk memuat pengalaman panjang seseorang di tengah konflik yang rumit. Dan dalam kasus ini, yang kita dengar bukan sekadar pendapat. Itu adalah kesaksian.





