Perjalanan Unik Kempho Antaka dari Seni Rupa ke Dunia Mendongeng
Kempho Antaka, seorang pendongeng anak yang dikenal luas di Indonesia, memiliki latar belakang yang tidak terduga. Meski kini dikenal sebagai tokoh yang menghibur anak-anak melalui cerita-cerita menarik, ia awalnya berasal dari dunia seni rupa dan pendidikan. Lahir di Semarang pada 23 Juli 1978, ia tidak pernah membayangkan dirinya menjadi pendongeng profesional. Justru, ketertarikannya pada dunia bercerita muncul dari pengalamannya sebagai guru.
Kempho mengungkapkan bahwa kegelisahannya melihat metode belajar anak-anak yang terlalu kaku menjadi salah satu pemicu untuk memperkenalkan cara baru dalam mengajar. “Jadi ceritanya itu kenapa saya jadi pendongeng ya enggak ada keinginan dari awal cita-cita, Kak. Jadi karena mendongeng itu menurut saya penting,” ujarnya saat ditemui di Daycare Kota Semarang.
Sejak kecil, Kempho sudah akrab dengan aktivitas kreatif. Ia sering mengumpulkan teman-temannya untuk bermain drama atau membuat wayang sederhana dari kertas minyak dan lampu sentir. Ketertarikannya pada seni kemudian membawanya kuliah di Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang. “Jadi basic saya sebenarnya seni rupa,” katanya.
Awal mula Kempho memperhatikan dunia bercerita secara serius terjadi saat ia sedang menjalani studi. Saat mengikuti lomba penelitian mewakili kampus, ia meneliti metode pembelajaran menggambar di sekolah dasar. Dari situ, ia melihat bahwa banyak guru masih mengajarkan menggambar dengan pola mencontoh gambar di papan tulis. “Yang akhirnya enggak jauh-jauh dari gunung kembar, matahari ngintip gitu dan sawah kotak-kotak,” ujarnya.
Dari pengamatan tersebut, ia mencoba menggunakan metode bercerita untuk memancing imajinasi anak sebelum menggambar. Hasilnya di luar dugaan. Anak-anak justru lebih bebas berkreasi dan mampu menjelaskan kembali gambar mereka lewat cerita masing-masing. “Walaupun waktu itu saya ikut lomba penelitian enggak menang, tapi saya senang sekali karena akhirnya mendapatkan hikmah, mendapatkan ilmu, tahu, benar-benar tahu kalau ‘Oh, anak-anak SD itu senang sekali didongengin’,” ungkapnya.
Pengalaman itu terus ia bawa saat menjadi guru TK. Mendongeng menjadi bagian rutin di kelas hingga murid-muridnya selalu menunggu sesi cerita. Kemampuannya kemudian semakin dikenal setelah mengikuti lomba kreativitas guru sekitar tahun 2005-2006. “Alhamdulillah, saya juara nasional untuk lomba membuat gambar seri dan mendongeng itu,” ujarnya.
Prestasi tersebut menjadi titik balik. Kempho mulai diminta memberikan pelatihan mendongeng bagi guru PAUD di berbagai daerah di Indonesia. Menariknya, pengalaman pertama menjadi narasumber justru langsung di tingkat nasional. “Workshop yang saya isi pertama kali langsung ke tingkat nasional gitu. Padahal belum pernah tingkat RT juga belum pernah waktu itu,” katanya sambil tertawa.
Di tengah perjalanannya sebagai pendongeng, Kempho juga bertemu dengan pendongeng senior Indonesia, Kak Bimo. Dari pelatihan yang diikutinya di Yogyakarta, lahirlah komunitas Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI) yang kini telah berusia 18 tahun. Saat ini, Kempho dipercaya menjadi ketua umum untuk periode kedua.
Meski dikenal luas sebagai pendongeng, Kempho tidak meninggalkan dunia seni rupa. Ia justru memadukan keduanya menjadi ciri khas pertunjukan. “Saya mendongeng dengan ciri khas menggambar live di depan penonton,” ujarnya. Konsep visual storyteller itu menjadi pembeda di tengah banyaknya pendongeng yang menggunakan boneka atau musik. Di atas panggung, Kak Kempho menggambar secara langsung sambil membangun alur cerita di hadapan anak-anak.
Selain tampil mendongeng, Kak Kempho juga aktif membuat buku cerita dan komik bertema lokal Semarang. Dalam tiga tahun terakhir, ia bekerja sama dengan Perpusda Kota Semarang membuat komik tentang Kota Lama, Dugderan, hingga lumpia.
Bagi Kempho, bagian paling menyenangkan dari mendongeng bukan hanya membuat anak-anak tertawa, tetapi ketika mereka benar-benar menyimak cerita dengan penuh perhatian. “Kalau kita lihat anak-anak sampai domblong lihat kita benar-benar serius itu tuh kita senang,” katanya.
Ia mengungkapkan jika bercerita bukan hanya hiburan, melainkan cara membangun kedekatan antara guru, orang tua, dan anak. Oleh karena itu, sebagian besar pelatihan yang ia berikan kepada guru lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi di kelas, bukan semata mencetak pendongeng profesional. “Nah, itu memang kalau yang pelatihan dan workshop yang pesertanya adalah pendidik itu memang tujuannya bukan untuk menjadikan mereka profesional, tetapi memberikan wawasan bahwa bercerita itu adalah salah satu teknik bagaimana mereka mengajar dengan menyenangkan,” imbuhnya.





