Kehidupan dan Perjalanan Irama Madduta, Jemaah Haji yang Meninggal di Tanah Suci
Keluarga almarhumah Irama Madduta, jemaah haji asal Tarakan Kalimantan Utara, sedang menghadapi duka yang sangat dalam. Irama meninggal dunia di Tanah Suci Mekkah setelah mengalami kolaps saat mandi sunnah ihram. Kejadian ini terjadi secara mendadak dan mengejutkan keluarga, terutama putri almarhumah, Hj Kasmawati.
Pada malam sebelum kepergian ibunya, keluarga melakukan khataman Alquran sebagai bagian dari tradisi keluarga. Malam ini akan dilanjutkan dengan pembacaan yasinan. Dalam kebiasaan keluarga Ibu Irama, kegiatan seperti ini berlangsung selama tujuh hari.
Hj Kasmawati, anak almarhumah, mengungkapkan bahwa ia menerima panggilan telepon dari keluarganya yang ikut berangkat ke Mekkah. Saat itu ia masih berada di sekolah, mengajar di SMPN 12 Kota Tarakan. Telepon masuk dari Zhanie, anggota keluarga yang ikut serta dalam perjalanan haji. Awalnya, ia hanya mengira Zhanie ingin bertanya tentang baju apa yang dipakai sang ibu.
Namun, beberapa detik kemudian, telepon kembali masuk. Zhanie menyampaikan kabar buruk: “Kak Aji minta maaf. Oh, minta maaf kenapa, kenapa Nenek? Bahasa saya seperti itu.” Dijawabnya, nenek jatuh. Hj Kasmawati langsung mempersiapkan diri untuk menerima kabar duka tersebut.
Dari video call, ia melihat langsung penanganan medis yang dilakukan oleh dokter-dokter di lokasi. Ibu almarhumah jatuh di kamar mandi saat mandi sunnah ihram. Meskipun telah diberikan pertolongan, akhirnya almarhumah tidak bisa diselamatkan. Adik almarhumah, Surasman, terlihat menangis di atas pembaringan sang ibu melalui video call.
Setelah menerima kabar duka, Hj Kasmawati segera menghubungi keluarga lainnya. Ia mengungkapkan kesedihan karena tidak dapat melihat ibunya untuk terakhir kalinya. Selama di Tanah Suci, ia hanya menerima kabar melalui chat WA dari adiknya.
Adik almarhumah, Surasman, memilih untuk tetap menemani sang ibu sampai dimakamkan. Ia mengatakan bahwa ia tidak sanggup meninggalkan ibunya sendirian. Setelah pemakaman, Surasman akhirnya menyusul kloter ke Arafah. Perjalanan menyusul ke Arafah hanya memakan waktu satu jam, lebih cepat dari biasanya.
Irama Madduta mendaftar haji tahun 2020. Berangkat cepat karena lansia mendapat prioritas sesuai kebijakan pemerintah. Adik almarhumah juga mendapat kesempatan untuk mendampingi sang ibu dengan catatan sudah mendaftar di atas tiga tahun. Karena pandemi, antrean haji mencapai enam tahun sebelum akhirnya berangkat.
Selama hidupnya, Irama hanya menjalani kehidupan rumah tangga. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas di pelabuhan. Tahun 2013 lalu, ayahnya meninggal dunia karena sakit. Sejak saat itu, Irama meminta putrinya membangun rumah tak jauh dari rumahnya.
Usia almarhumah bukanlah 79 tahun seperti tercantum dalam KTP. Berdasarkan keterangan kakak-kakaknya, Irama sudah berusia sekitar hampir 90 tahunan. Ia sempat menunjukkan isyarat seperti membagi uang ke cucu dan pernah mengutarakan keinginan wafat di Tanah Suci.
Sebelum berangkat ke Masjid Baitul Izzah Islamic Center, almarhumah masih santai dan bahkan sempat memberikan uang kepada cucu-cucunya. Ia mengatakan bahwa ia ingin berangkat dan lama tidak memberikan uang lagi. Uang yang diberikan adalah Rp50 ribu untuk setiap cucu.
Almarhumah juga pernah menyampaikan keinginannya untuk meninggal di Tanah Suci. Hal ini disampaikan oleh sepupu Hj Kasmawati ketika ia berangkat haji. Namun, semua yang disampaikan almarhumah terwujud. Ia meninggal di Tanah Suci usai menyampaikan pesan tersirat semasa masih di Tarakan.
Perjalanan Irama Madduta menjadi cerita yang menyentuh bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Duka yang dialami keluarga tidak hanya karena kehilangan orang tercinta, tetapi juga karena tidak bisa melihat ibunya untuk terakhir kalinya.
