Peran Tes Kemampuan Akademik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kualitas pendidikan di berbagai jenjang. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, menyatakan bahwa hasil TKA jenjang SMA tahun 2025 harus menjadi dasar awal untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional secara keseluruhan.
Kurniasih menekankan perlunya dukungan moril dan teknis yang nyata bagi para guru menjelang pelaksanaan TKA SD dan SMP pada tahun ini. Ia menilai bahwa guru perlu mendapatkan akses pelatihan yang lebih luas, termasuk pendalaman analisis butir soal TKA agar dapat meningkatkan proses pembelajaran. Hal ini akan membantu guru dalam memahami karakteristik soal dan mengembangkan strategi pengajaran yang lebih efektif.
Persiapan Siswa yang Lebih Matang
Menurutnya, model soal dalam simulasi dan latihan seharusnya menjadi rujukan utama agar siswa terbiasa dengan karakteristik TKA. Dengan demikian, siswa dapat mempersiapkan diri secara lebih matang tanpa mengalami tekanan berlebihan. Kurniasih juga mengingatkan bahwa TKA tidak boleh menjadi beban psikologis bagi siswa, guru, maupun sekolah.
Ia menilai bahwa capaian TKA SMA tidak seharusnya mematikan semangat belajar siswa atau mengurangi kepercayaan diri guru dalam menjalankan perannya. “Jangan sampai capaian TKA membuat siswa stres dan putus harapan, atau melemahkan semangat guru. Guru kita sudah bekerja keras di garda terdepan, tugas kita adalah memberi dukungan moril dan memfasilitasi mereka,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Kajian Mendalam atas Hasil TKA
Selain itu, Kurniasih mendorong pemerintah melakukan kajian mendalam terhadap hasil TKA SMA serta memastikan data tersebut tidak digunakan untuk membuat peringkat sekolah yang berpotensi membebani sekolah-sekolah di daerah dengan keterbatasan fasilitas. Ia juga meminta jaminan bahwa hasil TKA tidak dijadikan filter utama dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), khususnya bagi jenjang SD dan SMP yang masih berada pada fase tumbuh kembang krusial.
“Biarkan TKA menjadi alat bagi sekolah untuk memetakan kebutuhan belajar anak, bukan menjadi beban baru yang menakutkan. Jangan sampai proses pendidikan tergerus karena siswa hanya mengejar skor,” katanya.
Fokus pada Pembelajaran yang Berkelanjutan
Dari sisi pembelajaran, Kurniasih menyarankan agar TKA tidak hanya dianggap sebagai tes akhir, tetapi juga sebagai alat evaluasi berkala yang dapat digunakan untuk memperbaiki kurikulum dan metode pengajaran. Dengan demikian, siswa akan lebih terbiasa dengan bentuk soal dan tuntutan akademik tanpa merasa tertekan.
Selain itu, ia menilai pentingnya adanya kolaborasi antara pihak sekolah, guru, dan orang tua dalam memastikan siswa tidak hanya fokus pada nilai, tetapi juga pada pemahaman konsep dan pengembangan potensi diri. Hal ini akan membantu siswa dalam menjalani proses belajar yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
Penutup
Dengan peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan, TKA dapat menjadi alat yang bermanfaat jika dikelola dengan tepat. Kurniasih menegaskan bahwa tujuan utama dari TKA adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar menciptakan tekanan eksternal bagi siswa dan guru. Dengan dukungan yang kuat dari pemerintah dan komunitas pendidikan, TKA dapat menjadi bagian dari sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berorientasi pada pembelajaran seumur hidup.





