Kembalinya Aktivitas Wisata di Gunung Rinjani
Setelah tiga bulan lamanya tertutup, aktivitas wisata di Gunung Rinjani kembali berjalan dan memberikan angin segar bagi perekonomian warga sekitar. Gunung yang menjadi ikon wisata alam di Lombok ini kini kembali dibuka untuk para pendaki dan wisatawan dari berbagai daerah.
Pengalaman Mendaki yang Menyenangkan
Gunung Rinjani, yang merupakan gunung tertinggi ketiga di Indonesia dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, menawarkan pemandangan yang memukau dan pengalaman mendaki yang tak terlupakan. Para wisatawan rela datang ke Pulau Lombok, yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, hanya untuk mencapai puncaknya.
Selama masa penutupan, jalur pendakian sempat hening dan tidak ada aktivitas yang signifikan. Namun, setelah dibuka kembali, suara deru motor dan tawa riuh pendaki mulai mengisi kembali jalur-jalur menuju pos-pos pendakian.
Jasa Ojek yang Mempermudah Perjalanan
Salah satu hal yang membuat perjalanan lebih mudah adalah adanya jasa ojek yang disediakan oleh komunitas lokal. Ojek ini membawa para pendaki menggunakan motor bebek yang dimodifikasi menjadi motor trail. Tarif jasa ojek ini ditetapkan sebesar Rp200.000 per orang, yang bisa mempercepat perjalanan dari 3 jam menjadi sekitar 1,5 jam.
“Karena jalurnya yang cukup ekstrim membuat daya jualnya, dan itu juga kita jual ke pendaki,” kata Juliadi, Ketua Komunitas Ojek Lingkar Rinjani.
Dampak Ekonomi yang Langsung Dirasakan
Dampak positif dari pembukaan kembali jalur pendakian terasa langsung pada perekonomian warga sekitar. Banyak pengemudi ojek yang menggantungkan hidup dari jasa angkut para pendaki kini mulai merasakan kembali kehidupan yang lebih baik.
“Alhamdulillah, baru dua hari dibuka, kami sudah mulai merasakan hidup kembali. Selama ini sepi, sekarang mulai ada pemasukan,” ujar Juliadi saat ditemui di pangkalan ojek di kawasan Sembalun.
Keberlanjutan dan Kepedulian Sosial
Tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, komunitas ojek ini juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Sebagian dari pendapatan mereka dikumpulkan secara swadaya untuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Setiap pekan, para anggota ojek menyisihkan dana hingga Rp2.100.000 yang digunakan untuk berbagai keperluan sosial, seperti bantuan material untuk masjid atau bantuan kepada warga yang kurang mampu.
“Uang yang Rp200 ribu itu kami swadaya, misalnya untuk masjid se-Kecamatan Sembalun. Pernah juga kami bantu material ke Bumbung, seperti semen. Pokoknya kebutuhan masjid yang lagi membangun, kami usahakan,” katanya.
Sejarah dan Perkembangan Komunitas
Komunitas ojek Lingkar Rinjani berdiri sejak tahun 2010 dengan hanya lima orang. Awalnya, kelompok ini bersifat informal dan sering kali terlibat dalam kejar-kejaran dengan petugas karena dianggap tidak resmi. Namun, setelah melalui proses panjang dan perjuangan yang tak mudah, jumlah anggota komunitas ini bertambah menjadi 42 orang.
Kini, komunitas ini telah diresmikan oleh pemerintah dan memiliki badan hukum. “Kami sekarang sudah punya badan hukum. Diresmikan sama pemerintah,” ungkap Juliadi dengan nada bangga.
Harapan Masa Depan
Dengan kembalinya aktivitas pendakian, para pengemudi ojek berharap kesejahteraan mereka terus membaik. Mereka optimistis dapat memperoleh penghasilan setiap harinya seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang untuk menaklukkan Rinjani.
“Kami rapat, swadaya ojek itu dari penghasilan. Hasilnya kami pakai untuk perbaiki jalur, kalau ada kejadian anggota juga kami bantu,” pungkas Juliadi.





