Proses Pemulihan Ekonomi dan Pendidikan di Wilayah Bencana Aceh
Wilayah yang terdampak bencana alam di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pasar dan sekolah kembali beroperasi, sementara itu hunian sementara juga telah dibangun untuk masyarakat yang terkena dampak bencana.
Kondisi Sekolah di Aceh
Di Provinsi Aceh, kegiatan belajar mengajar secara bertahap kembali berjalan setelah banjir dan longsor melanda wilayah tersebut, termasuk di Aceh Tamiang. Meskipun aktivitas pembelajaran sudah dimulai, kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih.
“Sejumlah fasilitas pendidikan masih terdampak banjir, seperti meja dan kursi yang rusak, serta ruang kelas yang belum sepenuhnya bersih,” kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Senin 5 Januari 2026.
Kemarin, kegiatan belajar mengajar sudah dilakukan di SD Negeri 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Para pelajar melaksanakan hari pertama masuk sekolah semester genap Tahun Ajaran 2025/2026.
“Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan sarana seadanya, termasuk penggunaan terpal sebagai alas belajar. Selain itu belum seluruh peserta didik dapat hadir, karena sebagian masih mengungsi di luar daerah,” tambah Abdul Muhari.
Gambaran Umum Pemulihan Pendidikan
Kondisi di SD Negeri 1 Karang Baru tersebut merupakan gambaran dari proses pemulihan pendidikan yang sedang berlangsung di Provinsi Aceh. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 2.756 satuan pendidikan terdampak banjir dan longsor di Aceh. Dari jumlah tersebut, 2.226 sekolah telah kembali beroperasi, meskipun sebagian masih dalam tahap pemulihan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti menyatakan, sebanyak 18 sekolah yang terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh masih belajar di tenda karena fasilitas pendidikan rusak akibat bencana.
“Kita akan terus berupaya untuk menghadirkan sekolah darurat bagi siswa yang belajar di tenda. Pembangunannya akan dilaksanakan secepatnya,” ujar Abdul Mu’ti di Kabupaten Aceh Tamiang, kemarin.
Pernyataan itu disampaikan di sela-sela menjadi pembina upacara pada hari pertama masuk sekolah pascabencana di SMA 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang. Ia menjelaskan bahwa Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbesar terhadap fasilitas satuan pendidikan akibat bencana banjir dan longsor, terutama di Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia menjelaskan, sebanyak 90% sekolah di Provinsi Aceh atau 2.468 sekolah sudah beroperasi, 18 sekolah menggunakan tenda, dan 288 sekolah masih dalam proses perbaikan.
Aktivitas Ekonomi di Pasar Sabtu Tualang Cut
Aktivitas ekonomi di Pasar Sabtu Tualang Cut, Aceh Tamiang, pun mulai ramai dan geliat. Masyarakat berbondong-bondong ke pasar untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Aceh Tamiang menjadi salah satu prioritas utama pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menilai dampak bencana di Aceh Tamiang termasuk yang paling parah dibandingkan daerah terdampak lainnya.
“Dari semua daerah terdampak, yang paling berat betul adalah Aceh Tamiang,” kata Tito, belum lama ini.
Perkembangan Pemulihan di Wilayah Sumatra
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno memaparkan perkembangan pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Sumatra menjelang akhir tahun. Dari sisi pemulihan aktivitas ekonomi, khususnya pasar tradisional, terdapat ratusan pasar yang terdampak bencana.
Di Aceh, sebanyak 112 pasar tradisional terdampak, dan hingga saat ini 18 pasar telah sepenuhnya kembali beroperasi. Di Sumatra Utara, sebanyak 46 pasar sudah beroperasi dan satu pasar lainnya masih dalam proses percepatan pemulihan. “Di Sumatra Barat, tiga pasar telah mulai beroperasi, sedangkan satu pasar masih dalam tahap percepatan pemulihan,” ucapnya.





