Perspektif Progresif Mengenai Penggunaan AI dalam Dunia Pendidikan
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan skripsi dan karya ilmiah sering kali dianggap sebagai bentuk kecurangan akademik. Namun, dalam gelaran Bali AI Summit 2026 pada 9-10 April 2026, Deputy Director of PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, M.A., CBC menawarkan perspektif yang lebih progresif sekaligus menantang integritas para akademisi.
Dr. Paulus menegaskan bahwa pelarangan AI bukanlah solusi, melainkan peningkatan literasi digital yang menjadi kunci utama. Ia menyatakan bahwa di era sekarang, penggunaan AI dalam dunia pendidikan sudah tidak bisa dihindari. Tantangan terbesarnya bukan pada alatnya, melainkan pada sejauh mana pengguna memahami apa yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.
Baginya, kejujuran akademik di masa depan akan diukur dari transparansi proses, bukan sekadar hasil akhir. “Boleh tidak pakai AI untuk skripsi atau publikasi? Boleh, asal dia menyetor prompt (perintah) yang digunakan dan bisa menjelaskan hasilnya,” kata Dr. Paulus di PIB College Tabanan, pada Jumat 10 April 2026.
“Catatannya adalah bagaimana kita memastikan dia paham apa yang dikerjakan. Itu yang penting, bukan soal apa yang bisa dibuat oleh AI, tapi soal pemahaman penggunanya,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa literasi adalah pembeda utama antara pengguna yang bijak dan yang hanya mengekor tren. Tanpa literasi, seseorang tidak akan mampu mengidentifikasi apakah jawaban yang diberikan AI benar atau salah. Hal ini berkaitan erat dengan critical thinking yang tetap harus menjadi fondasi utama manusia.
Menurutnya, AI harus dipandang sebagai “penolong” yang membantu merumuskan masalah atau mencari referensi, namun keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran manusia juga dibedah secara mendalam oleh Dr. Paulus.
Ia mengibaratkan AI seperti sebuah pedang samurai. Di tangan yang tepat, samurai bisa digunakan untuk memotong bawang dengan presisi, namun di tangan yang salah, ia bisa menjadi senjata yang membunuh. Penggunaan AI sangat bergantung pada etika dan tujuan orang di belakangnya.
“AI itu tidak menggantikan kita karena wisdom atau kebijaksanaan itu masih tetap ada pada kita,” tuturnya. “Teknologi ini sifatnya co-pilot dia membantu pekerjaan kita menjadi lebih optimal. Kita harus punya prinsip dan tahu mana yang terbaik buat bangsa sendiri,” imbuh dia.
“Jangan sampai kita terintimidasi atau merasa tidak keren kalau tidak ikut-ikutan tren AI global yang belum tentu cocok dengan kebutuhan kita,” lanjutnya.
Dr. Paulus juga membagikan bukti nyata bagaimana AI bisa mengangkat martabat dan peluang kerja, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang teknologi. Ia menceritakan pengalamannya membantu mahasiswa jurusan antropologi budaya yang sebelumnya sulit mendapatkan tempat magang.
Hanya dalam waktu singkat dengan bantuan AI, para mahasiswa tersebut mampu menciptakan game dan kini banyak yang berhasil menembus industri besar seperti Marvel Studio. “Ini adalah bukti bahwa AI bukan milik orang yang jago coding saja,” kata dia.
AI memberikan ruang bagi siapa pun untuk berinovasi guna membangun awareness dan literasi agar human security terbangun. “Kalau manusia sudah merasa aman dan tidak takut digantikan, maka transformasi industri akan jauh lebih mudah dilakukan,” jelasnya.
Namun, ia juga memberikan catatan kritis terkait aspek hukum dan ekonomi. Meski AI mulai diakui sebagai aktor ekonomi semu (quasi economic actor), secara hukum AI tetap tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Dr. Paulus menyoroti adanya black box syndrome, di mana orang hanya tahu input dan output tanpa memahami proses di dalamnya.
Inilah alasan mengapa tanggung jawab moral dan hukum tetap harus melekat pada subjek manusianya. Di PIB College sendiri, implementasi AI telah masuk ke dalam kurikulum bisnis digital dengan sentuhan spesifik pada sektor pariwisata melalui minor AI in Hospitality dan AI in Gastronomy.
Pemanfaatannya mulai dari membantu penciptaan resep baru hingga optimalisasi sistem pelayanan di industri hotel. Menutup paparannya, Dr. Paulus mengingatkan bahwa AI bukanlah segalanya. Adapun Baki AI Summit merupakan forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi industri, pemerintah, dan inovator teknologi.
Untuk membahas peran kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung ekonomi digital yang berkelanjutan dan pelestarian budaya. Mengusung tema “AI for Sustainable Cultural & Digital Economy”, acara ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi lintas sektor dalam memanfaatkan AI sebagai katalis pertumbuhan regional, sekaligus menjaga warisan budaya lokal.
“Terkadang solusi manual bisa menjadi solusi yang paling bijak. Kita harus punya prinsip untuk tidak sekadar menjadi pengikut. AI ada untuk menolong kita berpikir lebih tajam, bukan untuk menghentikan kita berpikir,” pungkasnya.




