Kehilangan Mendalam atas Kepergian Soman Hinelo
Soman Hinelo, seorang warga Desa Hutadaa, Dusun Tiga, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, meninggal dunia di kawasan Danau Limboto pada hari Sabtu (23/5/2026) pagi. Usianya yang telah mencapai 80 tahun membuat kepergian pria ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Soman dikenal sebagai sosok yang sederhana, aktif, serta mudah bergaul dengan siapa saja. Meskipun sudah lanjut usia, ia masih rutin pergi ke kebun sendirian menggunakan sepedanya. Ia juga sering berkumpul dan berbincang bersama warga di sekitar Danau Limboto maupun Desa Ilotidea, Kecamatan Tilango.
Sosok yang Ramah dan Mudah Bergaul
Irwan Abdullah, warga Desa Ilotidea yang merupakan teman korban, mengatakan bahwa almarhum dikenal suka bergaul tanpa membedakan usia. “Beliau sering nongkrong dan berkumpul dengan warga. Dari anak muda sampai orangtua semua akrab,” ujar Irwan.
Menurut Irwan, Soman kerap datang ke rumahnya untuk sekadar duduk santai dan berbincang bersama warga lainnya. Bahkan, ketika pulang, korban sering diantar menggunakan becak motor (bentor) sementara sepedanya ditinggalkan terlebih dahulu. “Kalau sudah datang di rumah biasanya saya antar pakai bentor, nanti sepedanya tinggal dulu di rumah saya,” katanya.
Meski sudah berusia lanjut, Soman masih terlihat kuat dalam beraktivitas sehari-hari. Korban hampir setiap hari pergi ke kebun dan berkeliling menggunakan sepeda. “Masih kuat sekali beliau. Ke kebun masih sendiri naik sepeda,” ujarnya.
Di mata warga, Soman juga dikenal sebagai pribadi pendiam namun mudah diajak berbincang ketika bertemu di jalan maupun di kebun. “Beliau orangnya baik dan tidak pilih-pilih teman,” kata warga lain di rumah duka.
Perjalanan Terakhir yang Membawa Petaka
Yusuf Hinelo, anak pertama korban, mengatakan ayahnya memang dikenal luas oleh masyarakat karena mudah bergaul dengan siapa saja. “Ayah saya berteman dengan siapa saja, dari anak muda sampai orang tua,” ujar Yusuf.
Menurut Yusuf, sang ayah lebih banyak menghabiskan waktu di kebun atau berbincang dengan teman-temannya di sekitar Danau Limboto. Meski terlihat pendiam di rumah, korban justru cukup aktif ketika sudah berkumpul bersama warga. “Kalau di rumah memang pendiam, tapi kalau ketemu teman-temannya suka cerita,” beber dia.
Yusuf mengaku sebelum ditemukan meninggal dunia, ayahnya masih sempat mendatangi kebun temannya di dekat Danau Limboto sekitar pukul 01.30 Wita dini hari. Saat itu korban masih berbincang santai seperti biasanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi. “Beliau sempat ke kebun temannya di kawasan danau dini hari. Setelah itu sudah tidak ada yang lihat lagi sampai ditemukan pagi,” terangnya.
Menurut Yusuf, ayahnya memang memiliki kebiasaan pergi ke kebun dekat Danau Limboto terutama ketika sulit tidur pada malam hari. Korban juga diketahui sering keluar rumah sendirian menggunakan sepeda. “Ayah saya kalau tidak bisa tidur biasanya pergi ke kebun dekat danau,” ungkapnya.
Dugaan Sebab Kematian
Keluarga menduga korban terpeleset saat melintas di jalur menuju kawasan danau yang licin dan menurun. Hal itu diperkuat dengan kondisi jalan menuju kebun yang cukup terjal terutama saat malam hari. “Beliau memang sering bilang pusing. Mungkin saat jalan ke danau beliau terpeleset,” jelasnya.
Yusuf menuturkan ayahnya tidak memiliki riwayat penyakit serius. Meski demikian, korban memang beberapa kali mengeluhkan sakit kepala atau pusing. “Kalau sakit berat tidak ada, cuma memang sering bilang pusing,” katanya.
Yusuf mengaku keluarga sangat kehilangan atas kepergian ayahnya yang terjadi secara mendadak. Korban meninggalkan empat orang anak yang semuanya telah berkeluarga.
Proses Pemakaman
Sementara itu, warga yang pertama kali menemukan korban langsung melaporkan kejadian tersebut kepada keluarga. Tak lama berselang, pihak kepolisian datang ke lokasi untuk melakukan pendataan dan pemeriksaan awal. Namun pihak keluarga memutuskan tidak melanjutkan pemeriksaan lebih lanjut dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah.
Setelah proses evakuasi selesai, jenazah korban dibawa ke rumah duka di Desa Hutadaa. Korban kemudian dimakamkan di pekuburan umum Desa Lawonu sekitar Sabtu pukul 13.00 Wita.


