Kolaborasi Walmart dan Google untuk Meningkatkan Pengalaman Belanja
Walmart dan Google baru-baru ini mengumumkan kerja sama strategis yang bertujuan untuk mempermudah konsumen menemukan dan membeli produk melalui asisten kecerdasan buatan (AI) Google Gemini. Dalam kolaborasi ini, konsumen akan dapat menggunakan Gemini untuk mencari dan membeli produk dari Walmart serta Sam’s Club dengan lebih mudah.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh CEO Walmart yang akan datang, John Furner, dan CEO Google Sundar Pichai dalam acara National Retail Federation’s Big Show di Javits Center, New York City, pada Minggu (11/1/2026). Ini menandai langkah penting dalam upaya Walmart untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin memanfaatkan chatbot AI untuk menghemat waktu atau mencari inspirasi belanja.
Fitur Belanja Dimulai dari AS
Meski kedua perusahaan belum mengungkapkan waktu peluncuran fitur maupun rincian kerja sama finansial, Walmart menyatakan bahwa layanan tersebut akan diluncurkan terlebih dahulu di Amerika Serikat (AS) sebelum diperluas ke pasar internasional. Kerja sama ini juga memperkuat strategi Walmart dalam menghadapi tren digital yang semakin berkembang.
Sebelumnya, Walmart juga telah menjalin kerja sama dengan pesaing Gemini, yaitu OpenAI melalui ChatGPT. Melalui fitur “Instant Checkout”, konsumen dapat membeli produk tanpa harus keluar dari chatbot AI. OpenAI telah meluncurkan fitur tersebut bersama Walmart dan menjalin kerja sama serupa dengan sejumlah peritel lain, termasuk Etsy serta beberapa merchant Shopify seperti Skims, Vuori, dan Spanx.
Selain itu, Walmart juga memiliki chatbot AI internal bernama Sparky, asisten berikon wajah senyum berwarna kuning yang tersedia di aplikasi Walmart. Hal ini menunjukkan komitmen Walmart untuk terus mengadopsi teknologi AI dalam berbagai aspek operasionalnya.
Peran AI dalam Strategi Ritel Walmart
Furner menyatakan bahwa peralihan dari pencarian tradisional ke perdagangan berbasis agen AI menjadi evolusi besar berikutnya dalam industri ritel. Ia menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya menyaksikan perubahan ini, tetapi juga ikut mendorongnya.
Dalam paparannya di panggung, Furner, yang akan resmi menjabat CEO Walmart pada 1 Februari mendatang, menyebut perusahaan tengah “menulis ulang aturan ritel” dengan memanfaatkan AI untuk mempersempit jarak antara keinginan dan kepemilikan barang.
Google Sebut AI Bersifat Transformatif
Sundar Pichai, CEO Google, menyampaikan antusiasmenya terhadap kolaborasi ini dan menyebut adopsi AI sebagai momen yang bersifat transformatif. Bagi Walmart, perubahan kebiasaan belanja konsumen—termasuk pencarian yang dimulai dari chatbot AI alih-alih aplikasi atau situs resmi—turut membentuk ulang strategi digital perusahaan.
David Guggina, Chief Ecommerce Officer Walmart AS, mengatakan bahwa AI berbasis agen membantu Walmart menjangkau konsumen lebih awal dalam perjalanan belanja mereka. Ia menambahkan bahwa seiring waktu, agen-agen ini akan memudahkan konsumen menemukan apa yang mereka butuhkan, inginkan, dan sukai.
Dampak AI bagi Tenaga Kerja
Para pimpinan Walmart juga kerap menyoroti dampak AI terhadap tenaga kerja dan perubahan peran karyawan. Pernyataan ini menjadi perhatian mengingat Walmart merupakan perusahaan swasta dengan jumlah karyawan terbesar di Amerika Serikat.
CEO Walmart yang akan pensiun, Doug McMillon, sebelumnya menyatakan bahwa AI akan membawa perubahan besar di dunia kerja. “Sudah sangat jelas bahwa AI akan mengubah hampir setiap pekerjaan,” kata McMillon.





