Kabar Duka Membuat Dunia Sepak Bola Indonesia Berduka
Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Indonesia. Mantan pelatih PSIS Semarang, Sutan Harhara, dikabarkan meninggal dunia. Kepergian sosok yang juga dikenal sebagai legenda Timnas Indonesia era 1970-an ini meninggalkan kesan mendalam bagi para mantan anak asuhnya.
Salah satu yang menyampaikan perasaannya adalah eks pemain PSIS musim 2006, Khusnul Yaqien. Ia mengaku kabar wafatnya Sutan Harhara cukup mengejutkan. Bahkan, ia sempat mendengar kabar mengenai kondisi kesehatan sang pelatih sehari sebelum berpulang.
“Padahal malam sebelumnya kami sempat ngobrol dengan rekan-rekan tentang kondisi kesehatan Om Sutan,” ujarnya, Sabtu (11/4). Menurutnya, beberapa waktu lalu ia juga sempat berkumpul dengan para coach educator lintas generasi di Jakarta, yang sebagian besar pernah menjadi pemain maupun kolega Sutan Harhara semasa aktif sebagai pemain dan pelatih.
Di mata Khusnul, almarhum merupakan sosok pelatih yang sabar dalam membimbing pemain. Tak hanya itu, Sutan Harhara juga dikenal memiliki semangat tinggi untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan sepak bola.
“Beliau termasuk pelatih yang sabar. Dan yang paling saya ingat dari beliau adalah keinginannya untuk selalu upgrade terkait football knowledge,” ungkapnya. Sebagai bentuk dedikasi terhadap dunia kepelatihan, Sutan Harhara juga kerap membagikan referensi ilmu kepada para pemainnya. Khusnul mengaku masih menyimpan sejumlah buku pemberian sang pelatih hingga saat ini.
“Banyak referensi berupa buku-buku sepak bola pemberian beliau yang sampai sekarang masih saya jadikan referensi. Sampai sekarang ada lima buku tentang kepelatihan yang masih tersimpan,” tambahnya.
Karier Menginspirasi
Semasa kariernya, Sutan Harhara tak hanya dikenal sebagai pemain andal, tetapi juga pelatih berpengalaman. Ia pernah menangani sejumlah klub, termasuk PSIS Semarang pada 2006. Salah satu momen paling dikenang terjadi saat ia menangani PSIS Semarang pada musim 2006.
Ia datang menggantikan Bambang Nurdiansyah dan langsung memberi dampak signifikan terhadap performa tim berjuluk Mahesa Jenar tersebut. Dengan materi pemain yang sudah cukup solid, Sutan Harhara mampu meramu skuad menjadi lebih kompetitif. Ia tidak banyak mengubah struktur tim, tetapi berhasil meningkatkan mental bertanding dan organisasi permainan.
Di bawah arahan Sutan Harhara, PSIS Semarang menjelma menjadi salah satu tim paling menakutkan di Liga Indonesia 2006. Kombinasi pemain lokal berkualitas dan legiun asing membuat PSIS tampil impresif sepanjang musim. Tim ini bahkan sempat dijuluki sebagai dream team karena kekuatan merata di semua lini.
Dari lini belakang yang kokoh, lini tengah kreatif, hingga lini depan yang tajam, PSIS tampil konsisten sejak fase grup hingga babak gugur. Perjalanan mereka dimulai dengan finis di papan atas wilayah Barat, lalu melaju ke babak delapan besar. Di fase tersebut, PSIS kembali menunjukkan kualitasnya dengan menjadi runner-up dan mengamankan tiket semifinal.
Di babak empat besar, PSIS sukses menyingkirkan Persekabpas Pasuruan untuk melaju ke partai final—sebuah pencapaian besar yang menandai keberhasilan racikan strategi Sutan Harhara.
Final yang Menyisakan Luka
Sayangnya, kisah indah tersebut tidak berakhir dengan trofi juara. Pada laga final, PSIS harus menghadapi Persik Kediri, salah satu kekuatan besar sepak bola Indonesia kala itu. Pertandingan berlangsung ketat, namun satu momen menjadi penentu. Gol tunggal yang dicetak oleh Cristian Gonzales membuat PSIS harus mengakui keunggulan lawan.
Kekalahan tersebut terasa pahit, mengingat PSIS tampil begitu dominan sepanjang turnamen. Namun, pencapaian sebagai runner-up tetap menjadi bukti nyata kualitas tim asuhan Sutan Harhara. Meski gagal meraih gelar juara, kiprah Sutan Harhara bersama PSIS Semarang tetap dikenang sebagai salah satu periode terbaik dalam sejarah klub.
Ia berhasil membentuk tim yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki semangat juang tinggi. Kemampuannya dalam memaksimalkan potensi pemain, termasuk memanfaatkan regulasi pemain asing saat itu, menunjukkan kecerdasan taktik dan kepemimpinan yang ia miliki. Ia bukan sekadar pelatih, tetapi juga figur yang mampu menyatukan tim.
Bagi suporter PSIS, musim 2006 adalah kenangan manis yang nyaris sempurna—dan nama Sutan Harhara akan selalu menjadi bagian penting dari cerita tersebut.
Jejak yang Tak Terlupakan
Kepergian Sutan Harhara menjadi kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia. Dedikasinya sebagai pemain dan pelatih telah memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan olahraga ini di Tanah Air. Ia meninggalkan jejak yang tidak hanya berupa prestasi, tetapi juga inspirasi bagi generasi berikutnya.
Sosoknya akan selalu dikenang sebagai bek tangguh, pelatih berkarakter, dan pribadi yang mencintai sepak bola sepenuh hati. Selamat jalan, Sutan Harhara. Jasamu akan selalu hidup dalam ingatan sepak bola Indonesia.





