Kenaikan Harga Plastik Mengganggu Pedagang dan Pelaku Usaha Kecil di Lamongan
Kenaikan harga plastik yang terjadi di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, telah memberikan dampak signifikan terhadap para pedagang pasar dan pelaku usaha kecil. Mulai dari penjual gorengan hingga penjual es teh, semuanya merasakan beban biaya operasional yang meningkat tajam. Hal ini memicu para pelaku usaha untuk mencari alternatif kemasan ramah lingkungan agar bisa tetap beroperasi tanpa harus menaikkan harga dagangan secara drastis.
Dampak Kenaikan Harga Plastik pada Berbagai Sektor
Salah satu pedagang gorengan di sekitar Pasar Tingkat Lamongan, Sa’adah (40), mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik sangat memberatkan. Ia menyebutkan bahwa setiap hari dirinya membutuhkan puluhan lembar plastik untuk membungkus dagangan pembeli. Sebelumnya, satu pack plastik ukuran kecil dibeli seharga Rp 18 ribu, namun kini naik menjadi Rp 36 ribu. Untuk ukuran besar juga mengalami kenaikan serupa. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan satu sampai dua pack plastik.
“Kalau harga gorengan dinaikkan, takut pembeli protes. Jadi ya terpaksa untungnya dikurangi,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh penjual es dan minuman kemasan di kawasan Jalan Basuki Rahmat, Lamongan. Harga gelas plastik dan sedotan ikut naik, sehingga biaya produksi bertambah. Seorang penjual es teh jumbo, Ahmad Wafa, mengatakan bahwa sebelumnya satu slop gelas plastik ukuran 16 ons dibeli sekitar Rp 32 ribu, kini harganya sudah mencapai Rp 64 ribu lebih, atau naik 100 persen.
“Bukan cuma gelasnya, tutup plastik dan sedotan juga naik. Kalau sehari jualan 100 sampai 150 gelas, tentu pengaruhnya besar,” katanya.
Pengaruh pada Penjual Pasar Tradisional dan Makanan Siap Saji
Tidak hanya pedagang kaki lima, para penjual di pasar tradisional juga terkena imbas kenaikan harga plastik. Pedagang daging, ikan, hingga bumbu dapur di Pasar Sidoharjo Lamongan mengeluhkan pengeluaran yang meningkat. Salah satu pedagang ayam potong, Khsunul Khotimah (55), mengatakan bahwa kenaikan harga plastik membuat pengeluaran harian bertambah hingga Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu.
“Kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung sebulan bisa ratusan ribu. Padahal kondisi pasar sekarang juga belum ramai,” katanya.
Sementara itu, penjual makanan siap saji yang menggunakan mika dan kotak plastik untuk kemasan juga merasakan dampaknya. Harga mika makanan ukuran sedang disebut naik cukup signifikan. Seorang penjual nasi ayam geprek di pusat Kabupaten Lamongan, Qotrin, mengungkapkan bahwa sebelumnya satu pack mika berisi 50 buah dibeli seharga Rp 22 ribu, kini harganya naik menjadi sekitar Rp 44 ribu.
Alternatif Kemasan Ramah Lingkungan
Di tengah kenaikan harga plastik yang mengganggu, sebagian PKL mulai mencari alternatif kemasan ramah lingkungan. Beberapa mengganti kantong plastik dengan kertas pembungkus, daun pisang, atau meminta pembeli membawa wadah sendiri.
Pedagang pecel lele di kawasan Lamongan Plaza, misalnya, mulai mengurangi penggunaan kantong plastik tambahan dan hanya menggunakan satu lapis bungkus. “Kalau dulu sambal, lalapan, dan nasi dipisah pakai beberapa plastik kecil. Sekarang disederhanakan supaya hemat,” kata salah seorang pedagang.
Namun, penggunaan bahan pengganti dinilai belum sepenuhnya bisa diterapkan. Selain karena harga alternatif ramah lingkungan juga relatif mahal, sebagian pembeli masih lebih memilih kemasan plastik karena dinilai praktis.
Harapan Pemerintah
Sejumlah pedagang berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, baik melalui pengendalian harga maupun bantuan bagi pelaku UMKM dan PKL. Mereka menilai kenaikan harga plastik menambah daftar panjang beban pedagang setelah sebelumnya harga bahan pokok dan kebutuhan usaha lain ikut naik.
“Sekarang yang naik bukan cuma bahan makanan, tapi plastik juga. Sementara pembeli maunya harga tetap murah. Jadi pedagang serba salah,” ujar seorang PKL.
Para pelaku usaha kecil di Lamongan berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Sebab, jika harga plastik terus naik, mereka khawatir terpaksa menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran dan kualitas dagangan. Bagi pedagang kecil, plastik memang terlihat sebagai kebutuhan sederhana. Namun di tengah usaha yang serba pas-pasan, kenaikan harga plastik sekecil apapun tetap berpengaruh besar terhadap keuntungan mereka.





